Total Tayangan Halaman

Sabtu, 03 November 2018

KOMPAS


KOMPAS



Aku tersenyum lalu kemudian sedikit tertawa. Untung saja dulu dikala masih menginjak bangku SMA aku pernah mengikuti kegiatan Praja Muda Karana. Kalau tidak, mungkin aku sudah mati kedinginan karena tidak tahu cara membuat api unggun. Lalu kemudian aku ingat, suatu hari di masa lalu kawanku pernah berkata “Jangan meremehkan dasar-dasar bertahan hidup ini ya! Kamu suatu saat nanti pasti butuh” katanya merajuk  karena aku mengejek buku lusuhnya yang bahkan judulnya saja tidak terbaca. Tapi dia sabar, lalu mengajariku isi buku itu. Aku beruntung.
Sekarang aku tersesat di tengah hutan sendirian. Aku hanya bisa duduk diam sambil mengamati pohon-pohon di sekitarku yang bergerak-gerak karena angin seolah-olah ingin berkata “Sedang apa manusia ini di sini?” Sebenarnya aku ingin berteriak kepada mereka “AKU TERSESAT, BISAKAH KALIAN MENUNJUKKAN JALAN KELUAR KEPADAKU?” Namun, aku hanya terdiam. Bukan karena aku tahu bahwa pohon tidak berbicara, akan tetapi karena aku tahu bahwa mereka akan tertawa jika mendengar alasan kenapa aku bisa tersesat. Lebih-lebih, alasan kenapa aku lebih memilih untuk diam dan menunggu.
***
Hari itu aku pulang dari kuliah. Hari-hari sebelumnya aku hampa. Namun, di hari itu aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang berbeda. Jujur saja, aku bukan tipe manusia yang suka memperhatikan sekelilingnya. Akan tetapi, hari itu aku melihat sekelilingku. Banyak orang tersenyum dan tertawa. Aku menyapa, lalu mereka tersenyum. “Aneh, tidak biasanya mereka begitu” Pikirku. Lalu, diriku menabrak seorang wanita karena teledor. Diriku terjatuh, ternyata dia lebih kuat berdiri. Aku melihat kearahnya, dia meminta maaf “Aduuhh, sorry ya, lu gak apa-apa kan?” ucapnya. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. “iya, iya aku gak apa-apa kok” kataku sambil berdiri sendiri. Dia tersenyum, lalu kemudian berjalan pergi. “Padahal dia merasa bersalah, tapi malah tersenyum kepadaku. Benar-benar hari yang aneh.”
Aku memegang pintu kamar kost yang sudah terbuka bahkan sebelum aku memasukkan dan memutar kuncinya. Aku panik, kamarku mungkin kemasukan maling. Aku bergegas menyalakan lampu. Tidak ada yang berubah dari semenjak aku meninggalkannya. Semuanya masih rapi. Tapi, ada satu benda di atas kasurku. Aku tidak merasa meninggalkan atau bahkan punya benda seperti itu. Bentuknya bulat, cukup besar, sebesar genggamanku. Ada jarum dia atasnya yang menunjuk ke arah utara dan selatan. “Kompas? Siapa yang masuk ke kamarku, lalu meninggalkan kompas?” kataku. Aku hampir mati saat itu. Bagaimana tidak? Tepat setelah aku berkata seperti itu, kompas itu menyahutiku. “Aku. Aku yang masuk kesini dan meninggalkan diriku di atas kasurmu.” Begitu katanya. Aku melemparnya ke tembok. Benda itu pasti ada jinnya. Namun sayang, dia tidak rusak. Tergores sedikit pun tidak. “Aduh, sakit tauuu.” Katanya. Aku takut dan bingung. Kemudian, dia lebih tahu bahwa aku takut dan bingung. “Tidak usah takut dan bingung seperti itu,” ucapnya. Ya Tuhan, kompas kok bicara. “Aku ke sini untuk mengisi kehampaan hari-harimu. Aku tahu kamu bosan di sini kan?” Aku membantahnya, “Ah siapa bilang? Aku senang kok disini. Kenapa aku harus bosan?” aku berbohong dan dia tahu itu.
“Jauh dari sini ada tempat yang aku jamin kau pasti menyukainya. Tempat di mana kau tidak akan pernah merasa bosan” katanya. “Dan aku bisa menunjukkan jalannya padamu.” Dia lalu melayang di udara. Hampir mati aku dibuatnya. Benar saja, karena setelah itu aku pingsan.
Aku terbangun membuka mata, berharap semua hal yang barusan aku alami tidak lain hanyalah sebuah mimpi. Aku melangkah ke kamar mandi ingin mencuci muka. “Sudah berapa lama ya aku tertidur?” Di kamar mandi aku menatap cermin. Benar-benar hari yang aneh. Mimpi yang aneh. Aku melangkah keluar. “Bagaimana? Kau siap memulai perjalananmu menuju ketidakhampaan?” kata kompas terbang itu. “AAAAAAAAAAA……” teriakku ketakutan setengah mati. Itu bukan mimpi.
***
Penyesalan itu datangnya di akhir, kawan. Jadi berhati-hatilah sebelum melangkah. Kalau saja aku tahu bahwa akhirnya akan menjadi seperti ini, aku lebih memilih untuk tidak bertemu dengannya. Aduh, aku tersesat. Sendirian aku duduk menghadap api unggun. Mengeluh sudah tidak ada gunanya. Aku ingin berjalan mencari jalan keluar. Namun apa daya, aku buta. Aku buta arah. Aku tidak tahu harus kemana. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin pulang namun aku juga ingin menunggu.
***

“Baiklah, aku percaya padamu,” kataku. “Mau kau ajak kemana aku sekarang?”
“ikuti saja aku, tidak usah banyak bertanya. Aku berjanji tempatnya asik. Tidak membosankan. Tidak seperti kamarmu yang hanya dicat berwarna kuning ini. Tidak menarik.”
“Hei, apa hakmu mengatai kamarku ini?” aku menggerutu.
Kalau kalian pikir kompas yang berbicara adalah sesuatu yang aneh, yang terjadi selanjutnya akan lebih aneh lagi. DIA BERUBAH MENJADI SESOSOK MANUSIA.
“nah aku rasa begini lebih enak.” Ucapnya.
Siapa sangka, tertanya kompas yang berbicara itu adalah seorang wanita yang tubunya pas-pasan. Tidak terlalu pendek, tidak terlalu tinggi. Tidak terlalu gendut, tapi juga tidak kurus. Tidak terlalu hitam, namun tidak juga putih. Karena itu aku menyebutnya pas. Wajahnya juga biasa saja. Dia tidak cantik. Setidaknya begitu menurutku.
“Aku rasa orang tidak akan curiga kalau aku menuntunmu dengan wujud manusiaku, bukan begitu?” Tanyanya.
“Kenapa tidak dari tadi saja kau berubah menjadi manusia? Supaya aku lebih terkejut menemukan seorang wanita tertidur di kasurku daripada harus takut setengah mati bertemu kompas yang bisa berbicara.” Tanyaku kepadanya. Dibalasnya dengan senyum kecil.
“Ayo kita mulai jalan. Hari sudah semakin gelap.”
***
Datang seekor burung menghampiriku. Burung itu imut dan lucu. Dia bertanya kenapa aku hanya terdiam saja.
“Tidak biasanya aku melihat manusia berada di sini. Ini bukan hutan yang mudah untuk dijelajahi.” Katanya
“Tepat sekali. Aku kesini dengan sebuah kompas. Dia yang menuntunku sampai ke hutan yang tenang dan damai ini.”
“Kau betah di sini?”
“Tidak juga. Aku kesepian…”
.
.
.
“lagi.”
***
Dia mengajakku berkeliling. Dia tertawa sepanjang jalan. Aku juga. Aku tidak tahan untuk tidak tertawa kepada bahan candaannya. Aku rasa kita punya selera humor yang sama. Faktanya, kita punya banyak kesamaan selain sekedar selera humor. Contohnya, ketika aku menceritakan kepadanya betapa aku menyukai seni melukis tembok, dia pun berkata sama. “Mereka bilang melukis tembok-tembok fasilitas umum adalah kegiatan yang tidak terpuji. Tapi kadang kala karya dari tempat-tempat seperti itu malah sangat mencerminkan manusia. Walau tidak jarang juga, lukisannya bikin kesal.” Katanya. Aku tersenyum mendengar perkataan itu. Bagaimana bisa seorang kompas bisa punya pemikiran sejauh itu. Aku kira dia hanya sebuah benda mati yang tidak berperasaan.
Dia mengajakku menyebrangi sungai tanpa perahu. Akupun menolak.
“Ini sudah malam, tidak ada yang menyewakan perahu.” Katanya. “Kalau kamu tidak menyebrang sekarang juga, tempat yang aku janjikan itu akan sirna.”
“Tapi aku tidak bisa berenang. Aku punya pengalaman hampir mati tenggelam.”
“Sungainya dangkal.”
Aku menatapnya marah, mungkin juga takut.
“Yaaaa memang arusnya sedikit deras sih, hehehehe..” dia tertawa. “Ayo, kamu kan laki-laki, masa sih takut sama air.”
“Aku gak takut airnya. Aku takut mati.”
“Kalau aku bilang kamu gak bakalan mati, apakah kamu akan percaya kepadaku lalu ikut menyebrang?”
“Tergantung, kalau kamu berani berjanji.”
“Aku berjanji.”
Aku menghela napas. “Ya sudah, ayo kita menyebrang.”
Dia memegang tanganku lalu mulai perlahan-lahan mengajakku memasuki aliran sungai tersebut. Memang dangkal airnya. Hanya sampai perutku saja. Hanya saja, memang arusnya deras bukan main. Aku harus berjuang untuk tetap berdiri sambil memegang tangannya. Aku oleng, hampir saja aku terjatuh dan terbawa arus sungai itu. Dia memegangku sangat erat sambil menatap kedepan seolah-olah aku sedang tidak memegang tangannya.
Dia berhenti sejenak di tengah perjalan menyebrang sungai.
“Kamu mau duduk dulu?” Tanyanya.
“Kamu gila? Ini arusnya deras sekali. Kalau aku duduk, bisa-bisa aku terbawa arus.”
Kemudian dia duduk. Dia menghilang dari permukaan air, menyelam.  Tanganku yang masih dipengang olehnya ditarik untuk ikut duduk menyelam bersamanya. Tenagaku kalah kuat. Aku ikut menyelam.
Di luar dugaanku, di dalam aliran sungai itu dia menyala. Cahanya biru menyejukkan. Dia tersenyum. Aku tidak. Aku harus menjaga napasku supaya tidak habis. Dia menunjuk-nunjuk, menyuruhku untuk menoleh ke samping. Aku menoleh. Indah sekali.
Ikan-ikan itu berenang di sekelilingku dan dirinya. Dia tertawa lepas, tidak berpikir soal kehabisan napas. Dia menyentuh ikan-ikan itu dengan jari telunjuknya lalu mendorongnya ke arahku. Ikan-ikan itu kemudian menutupi pandanganku kepadanya. Ketika ikan-ikan itu pergi, aku melihatnya tersenyum ke arahku. Senyum itu adalah senyum paling tulus yang pernah orang lain berikan kepadaku. Dia memandangku lama sebelum akhirnya mengajakku ke permukaan untuk mengambil napas.
“Hahaha…bagaimana? Bagus kan pemandangan di dalam sana? Tidak membosankan bukan?”
Aku hanya bisa diam mengangguk.
Akhirnya kita sampai di tepian sungai yang kita tuju. Aku sebenarnya ingin berkata padanya bahwa aku lelah. Tapi mengingat senyum yang dia berikan kepadaku saat berada di dalam aliran sungai tadi, aku akhirnya mengurungkan niat.
“Aku kedinginan,” kataku mengeluh.
Dia menatapku, lalu kemudian berkata, “Kalau begitu, aku rasa membuat api unggun adalah pilihan yang terbaik, bukan begitu?”
“Kamu tahu cara membuat api unggun? Kamu kan seorang kompas. Pasti sering menyaksikan orang membuat api unggun.”
“Haahaha kamu lucu ya. Penuh prasangka.” Katanya. “Aku ini sebenarnya adalah kompas seorang pelaut tua. Jadi aku tidak tahu cara membuat api unggun.”
“Beruntung bagimu, aku pernah ikut kegitan Pramuka. Membuat api unggun adalah makanan sehari-hariku.” Jawabku bercanda.
aku kemudian berdiri untuk mengajaknya mencari kayu bakar. Tidak perlu terlalu banyak, yang penting cukup untuk menghangat badan kami sebelum akhirnya pergi melanjutkan perjalanan yang aku sendiri tidak tahu tujuannya kemana.
***
“Lalu, apa yang menghalangimu untuk kembali pulang wahai anak muda?” Tanya sebatang pohon dari belakang punggungku.
“Aku tidak tahu jalan pulang.”
“Aku bisa memberitahumu jalan keluar dari hutan ini kalau kamu mau. Tapi aku rasa bukan itu masalahnya, bukan begitu?”
“Maksudmu?”
Burung kecil itu pun ikut berbicara. “Kamu menunggunya untuk kembali bukan? Kamu penasaran dengan apa yang dia janjikan kepadamu, bukan begitu?”
Aku terdiam. Separuh diriku ingin berkata bahwa apa yang dikatakan burung kecil itu ada benarnya juga. Aku tidak bisa membantahnya.
“Aku rasa bukan begitu, Burung kecil.” Ucap sang pohon menyanggah. “Aku tahu seluk beluk hutan ini. Aku bisa dengan mudah memberitahunya tempat yang ingin ia tuju bersama teman kompasnya itu. Sahabat manusia kita ini tidak menunggu teman-kompasnya untuk kembali supaya temannya itu dapat menuntun dia ke tempat yang dijanjikan padanya. Sepertinya jawabannya terlalu sederhana, Burung  kecil.”
“Apa itu?”
“Dia menunggu teman-kompasnya itu untuk kembali supaya ia dapat melihatnya lagi.”
***
Sepanjang perjalanan mencari kayu bakar, kompas itu bercerita banyak hal. Dia bercerita bahwa dulu dia pernah dimiliki oleh seorang pelaut tua. Pelaut tua yang sangat berambisi untuk mencari harta karun tersembunyi untuk kemudian dihadiahkan kepada istrinya sebagai hadiah peringatan ulang tahun pernikahan mereka. Namun naasnya pelaut tua itu tidak tahu bahwa harta karun yang ia cari ternyata dijaga oleh arwah penasaran pemilik harta karun tersebut.
“…dia bertarung dengan sekuat tenaga yang ia punya,” katanya bercerita dengan sangat bersemangat. “Seluruh awak kapalnya telah tewas. Namun hal itu tidak membuatnya surut dan menyerah bertekuk lutut. Tekad untuk memberikan harta karun itu untuk istrinya mengalahkan rasa takutnya terhadap kematian. Hanya tersisa dirinya, sang arwah, dan aku yang tergantung di lehernya.”
Dia menghela napas. “Pertarungannya sangat sengit. Dia hampir menang. Harta karun itu sudah hampir dimilikinya. Namun sang arwah ternyata belum menyerah. Tekadnya untuk menjaga harta karun itu juga lebih kuat dari tekad sang pelaut.”
Aku memperhatikan dia menceritakan kisah itu dengan seksama. Aku tertarik dengan kisah ia yang ia ceritakan itu walaupun aku tidak tahu apakah itu nyata atau hanya karangannya saja supaya aku terkesan.
“Mereka berdua tumbang. Mereka berdua sekarat. Hanya tersisa aku di sana yang masih sadarkan diri.” dia berhenti sejenak. “Lalu kemudian sang pelaut tua mencabut pedang sang arwah lalu mengarahkannya padaku sambil berkata ‘Hiduplah dan antarkan harta karun ini kepada istriku.’ Sejak saat itu lah aku mempunyai wujud manusiaku ini.”
“Wowww..” ucapku terkagum-kagum. “Lalu bagaimana? Apakah kau menghantarkan harta karun itu kepada istri sang pelaut?”
“Pedang itulah harta karunnya. Pelaut itu dan istrinya tidak bisa mempunyai buah hati. Jadi dia mencari pedang itu supaya bisa mengubahku menjadi seorang manusia agar aku bisa menjadi anaknya. Tentu saja aku pulang, lalu menceritakan semuanya kepada sang istri.” Dia meneteskan air mata. “kini mereka berdua sudah berada di alam yang sama.”
“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?”
“Aku ingin tetap hidup menjadi sebuah kompas dan seorang manusia. Aku ingin merasakan cinta.”
Setelah dia berkata seperti itu, tubuhnya memancarkan cahaya biru itu lagi. Namun kali ini dia tidak kelihatan tersenyum. Die terlihat panik dan takut. “Oh tidak lagi..” katanya.
Aku bertanya, “Kenapa??”
Dia kemudian berubah wujud menjadi kompas. Di atas rumput yang kering itu dia masih menyala biru, hanya saja jarumnya berputar-putar tidak karuan ke segala arah. Mungkin dia rusak? Tidak lama setelah itu dia berubah wujud lagi menjadi seorang manusia.
Dia membelakangiku lama sekali sebelum akhirnya membalikkan badan dan melihatku. Dia terkejut lalu berjalan mundur perlahan.
“Si-Siapa kamu???” tanyanya.
Aku mencoba meraihnya, mencoba memegang tangannya.
“Aku-aku tidak mengenalmu.” Katanya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berlari meninggalkanku di hutan yang sepi ini sendirian.
***
“Ini, tulislah kisahnya di buku ini.” Kata seekor Orang Utan memberiku sebuah buku dan sebatang pena. “supaya kau bisa pulang dan melupakannya.”
“Aku tidak mengerti.” Kataku keheranan.
“Anggap saja ketika kau selesai menulis kisah tentang dia, kau akan melupakan semuanya dan kemudian berjalan kembali ke tempat kau memulai.”
“Maksudku, aku tidak mengerti kenapa aku harus melakukannya. Mungkin sesuatu terjadi kepadanya sehingga membuatnya lupa tentang diriku. Aku tidak mau melupakannya.”
“Kalau begitu kau bisa tetap diam di hutan ini menunggu kehadirannya yang tak pasti.”
“Aku tidak mau menulis tentang dia. Ini belum usai. Dia pasti kembali.”
“Dasar manusia bodoh.” Ucap seekor ular menggerutu.
Di sanalah aku ditemani seekor burung, orang utan, seekor ular dan sebatang pohon. Aku memlilih tetap diam dan menunggu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar