Total Tayangan Halaman

Selasa, 29 Desember 2015

Segelas teh panas

Pemuda dalam balutan kaos hitam itu berlari menembus hujan. Menatap ke sebuah warung kecil sebagai tujuannya. Dilihatnya pintu warung menganga lebar. Dengan sigap ia masuk ke dalamnya, dan mengambil tempat duduk di sebuah kursi panjang yang ketika diduduki olehnya terasa bergoyang lemah. Tidak banyak orang disana, hanya dia, pemilik warung, dan empat orang berkemeja putih yang terlihat sedang menikmati kopi.
Hujan semakin deras, bunyi atap seng berkarat itu pun semakin keras. Melantunkan lagu abstrak yang terdengar membawa kesunyian ke dalam setiap hati yang mendengarnya. Pemilik warung yang sudah berumur itu mendekatinya. Dari dekat, tampak jelas rupanya. Matanya yang sayu, bibirnya yang keriput, serta kulitnya yang berlipat-lipat. Kakek itu tersenyum padanya, “Kopi den?” begitu ucapnya.
“Teh saja mang,” jawab pemuda itu.
Kakek tua itu hanya mengangguk, lalu membalikkan tubuh kurusnya meninggalkan si pemuda yang kali ini terlihat melamun. Lamunannya mengarah kepada berjuta kenangan yang telah ia lalui di kota ini, sebelum ia pergi untuk menjejakkan kaki di tanah rantau yang ia cintai. Namun, bagaimanapun ia mencintai tanah rantaunya, tak bisa ia pungkiri bahwa tanah asalnyalah yang lebih banyak menyimpan kenangan. Mungkin karena itu ia lebih mencintai tanah rantaunya? karena tanah ini menyimpan begitu banyak kenangan untuknya. Kenangan yang tajam bak belati yang siap menusuknya kapan saja. Tidak, tentu dia tidak akan ambil pusing untuk menggali-gali kenangan itu kembali. Biarlah belati itu terkubur.
Kakek tua itu datang kembali, kali ini dengan segelas teh panas di tangannya.
“Silahkan den.” Ucapnya kakek tua itu menyuguhkan.
“Terima kasih mang.” Pemuda tersenyum.
“Den, temannya ndak diajak?” kakek tua itu bertanya.
Pemuda itu terkejut. “Ah, ingatan itu lagi.” Gumamnya dalam hati.
***
“Hei, kita mampir disana sebentar,” Ucap Beni menunjuk ke arah sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan. “Kita nongkrong di sana sebentar.”
Teguh mengangguk, mengiyakan perkataan temannya.
Mereka berdua masuk, mengambil tempat duduk. Beni melepaskan tasnya, meletakkannya di atas meja.
“Mang, es teh dua.”
Pemilik warung itu spontan menoleh ke arah sumber suara, “Oke den.” Ucapanya.
Sembari menunggu es teh itu datang, Beni membuka suara, mengajak Teguh berbincang. “Gimana? Kamu ikut kan?”
“Aku juga gak tahu Ben, kamu tahu kan nilai raportku jelek.”
“Ayolah, sesekali liburan gak apa-apa dong. Orang tuamu pasti ngerti.”
“Ya, aku harap sih begitu.”
Es teh itu akhirnya datang, bersiap menemani obrolan mereka. Setelah cukup lama mereka mengobrol di sana, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Beni memasang tasnya, Teguh berdiri. Lalu mereka berdua berjalan keluar dari warung itu dengan meninggalkan dua gelas yang sudah tak berisi.

Tok Tok Tok!
Suara pintu itu di ketuk. Dilihatnya dari lubang kecil yang cekung itu, rupanya Beni. Teguh membuka pintu kamarnya.
“Ada apa Ben?” tanyanya.
“Boleh masuk gak nih?” Beni balik bertanya.
Teguh mengangguk, mempersilahkan temannya masuk. Beni berlari, lalu kemudian merebahkan badannya di kasur Teguh yang empuk. Teguh berjalan perlahan ke arahnya, “Kenapa Ben?” Tanyanya kembali.
“Oh ya tentang besok,” setengah badan Beni terbangun. “Jadi gak?”
Teguh terlihat ragu menjawab. “Ma-maaf Ben, orang tuaku gak ngizinin.”
“Trus kamu bagaimana?”
“Gimana ya? Aku sih pengen.”
“Kalau begitu pergi aja,”
“Maksudmu?”
“Kabur ajalah, besok aku tunggu di taman, kamu izin lah sama orang tuamu buat pergi ke taman, bilang aja mau lari pagi.”
Teguh setengah menunduk, “Tapi kan itu durhaka namanya Ben, takut kualat aku.”
“Ah, gak apa-apa. Sekali doang kok.” Sekarang Beni beranjak dari tempat tidur. “Dah ya, aku pulang. Besok pagi-pagi aku tunggu kamu di taman.” Punggungnya berlalu, menghilang di depan pintu meninggalkan Teguh dengan penuh perasaan bimbang.

Keesokan paginya, Beni sudah berada di taman. Menunggu Teguh untuk datang. Namun, setelah cukup lama tak jua dilihatnya batang hidung dari sahabatnya itu. sampai akhirnya matanya menangkap sosok Teguh membelah keramaian, berjalan ke arahnya.
“Nah akhirnya datang juga.” Ucap Beni sambil menyalakan mesin motor bebeknya. “Ayo, langsung naik.”
Teguh mengangguk, lalu mengambil tempat duduk tepat di belakang Beni. Beni langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. meyusuri jalan perkotaan yang cukup padat. Mengarahkan motornya keluar dari kota itu. sampai akhirnya tulisan “Selamat jalan” itu terbaca olehnya dan Teguh.
“Kita kemana ya?” Tanya Teguh.
“Ah, aku punya tempat liburan bagus di dekat rumah nenekku, di dekat pantai.” Jawab Beni dari balik helm hitam yang sedang ia gunakan. Teguh kemudian terdiam kembali.
Sudah kali kedua mereka melewati plang kuning bertuliskan “Hati-hati. Keluar masuk proyek kendaraan”. Melihat plang itu Beni tak bergeming, kecepatannya malah semakin bertambah. Sampai menyentuh angka delapan puluh pada speedometer motornya. Lalu tiba-tiba kendaraan kuning nan besar itu keluar, mengambil jalur Beni. Beni terkesiap tak bisa berbuat apa-apa. Pasrah.
Brak!
***
“Aku dimana?” Beni bertanya. Di depannya berdiri kedua orang tuanya dengan seorang pria yang mengenakan jas putih panjang. Wanita yang dikenalnya sebagai ibu terlihat menangis. Dirinya ingin beranjak. Namun, sakit di seluruh bagian tubuhnya itu tidak meperbolehkan dirinya untuk beranjak. Sakit di mana-mana, perban di mana-mana.
Kedua orang tuanya menoleh, melihat anaknya yang telah sadar kembali. Wanita itu masih menangis, sementara sang pria yang dikenalnya sebagai ayah melangkah mendekatinya. “Kamu di rumah sakit, nak.” Ucapnya.
Dengan polosnya ia bertanya. “Kenapa?”
Ayahnya menatap bingung. Dia melihat ke arah dua orang lain yang sedang berada di ruangan itu. wanita itu mengangguk. Ayahnya kemudian mentap ke arahnya lagi. “Kamu tabrakan dengan Truk. Helm hitam itu menyelamatkanmu.”
Mata Beni terbelalak mendengar penuturaa ayahnya. Dirinya teringat akan sosok yang duduk di belakangnya ketika kejadian naas itu terjadi.
“Teguh mana?” tanyanya.
***
Hujan deras itu telah reda. Pemuda itu segera menghabiskan teh panas miliknya, kemudian berdiri lalu beranjak pergi ke arah si kakek tua. Tangannya menyodorkan lembaran uang berwarna merah keunguan. Tangan kakek tua itu menerimanya.
“Terima kasih mang,” ucapnya. “Kembaliannya diambil saja, saya pamit dulu.”
Baru saja ia berniat membalikkan punggungnya, namun tertahan oleh sebuah rasa aneh yang mengarah kepada kakek tua itu.

“Oh ya, dan tentang temanku itu, mamang bisa menghadiahkannya surat Al-Fatihah, agar ia bisa tenang di alam sana.” Ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan penampakan punggungnya yang semakin memudar lalu akhirnya menghilang.

Sabtu, 26 Desember 2015

Secercah harapan yang hilang

“Mau kemana?” Tanyanya padaku. Aku hanya tersenyum kepadanya, terlalu malas untuk menjawab. Pun jika aku menjawab, dia tidak akan mendengarnya. Suara gendang, suara orang-orang, semuanya terlalu keras. Toh, setelah melihatku tersenyum, dia melanjutkan pandangan matanya pada biduan wanita yang sedang asyik berdendang itu.
Diriku perlahan memunggunginya, berjalan membelah sesak. Menuju ke tempat di mana mungkin harapan itu masih ada. Sedikit ku perlambat langkah kakiku untuk sejenak menikmati keramaian ini. Bukankah ini yang aku cari? Tempat yang jauh dari sepi? Namun, kenapa hati ini tidak merasakan kenyamanan berada di sini? Aku memejamkan mata, berusaha menghilangkan keabuan dalam benakku.
Mereka tertawa, seakan dunia sama indahnya dengan surga. Tanpa mereka sadari bahwa dunia ini hanya sementara. Setidaknya, begitulah kata para tetua. Aku mulai bertanya, seindah apa sih surga itu? Ah, pertanyaan bodoh, gumamku. 
Aku mulai berjalan lagi, meninggalkan kerumunan yang sedang riang gembira itu. Teriakan masing-masing dari mereka sungguh memekakkan telinga. Terasa seperti pisau tajam yang mulai menusuk hati. Merobek lebar pintu iri dan dengki yang sudah sekian lama menanti. Namun siapakah sebenarnya yang dibenci hati? Mereka atau pilihan ini?
Akhirnya, udara terasa segar. Sepasang paru-paru ini terasa lega, keluar dari kerumunan yang menyesakkan dada. Langkah kaki mulai berjalan lagi. Menuju ke tempat di mana mungkin harapan itu masih ada. sejenak ku longokkan kepala ke atas hanya untuk melihat indahnya susunan bintang. Lalu kemudian menatap lagi kedapan, lunglai berjalan menuju ke tempat harapan.
Di sinilah aku, di depan sebuah pintu kayu. Tua, namun masih bisa dipercaya kekuatannya. Tanganku merayap ke saku belakang, mencari-cari kunci dari pintu yang siap dibuka ini. Masuk lebih dalam, terasa onggokan besi kecil teraba oleh tangan. Dengan sedikit tarikan, kunci itu keluar, lalu masuk lagi, kali ini ke sebuah lubang kunci.
Pintu itu berderit, terbuka lebar. Tanganku mulai meraba-raba saklar yang seingatku berada di sebalah kanan daun pintu. Ctek! Lampu menyala, menampakkan seutas tali dengan simpul lasso yang sedang menganga lebar.
Di sinilah aku, di depan seutas tali.
***
“Hah? Dasar kau tidak bertanggung jawab.” Seorang pria tua berteriak, terdengar oleh orang-orang di sekelilingnya. “Untuk apa kau waktu itu berkata sanggup?”
“Maafkan aku kang, aku tidak bisa.”
“Bedebah.”
“Tapi memang begitu kang, aku tidak bisa menjalani pekerjaan  yang di mana aku sendiri tidak menyukai pekerjaan itu.” ucap pria muda itu membela diri.
“Lalu, kenapa kau bersumpah serapah menyanggupinya saat itu?”
“Aku khilaf kang, kalau saja aku tahu pekerjaannya seperti itu, mana mungkin aku mau? Aku tidak cocok”
“Ah, alasanmu saja. Dengar, pekerjaan itu sangat cocok untukmu. Lagipula, orang-orang menyanjungmu bukan?” pria tua itu menghela napas. “Dan kau tahu? Yang rugi itu kamu bukan aku.”
“Lalu, kenapa akang marah-marah dengan pilihanku ini?”
“Karena … orang-orang akan mulai membencimu, dan akang tidak mau itu terjadi. Kamu akan malu seumur hidup, dan tidak bisa lari dari kenyataan, orang-orang yang memilihmu akan menjauh darimu.”
“Biarkan saja.” Ketusnya. “Ini pilihanku.”
“Terserah..”
***
Aku menghela napas, bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku menyesali pilihanku ini? Iya, aku menyesal. Aku selalu dihantui rasa cemas. Karena telah menjalani pilihan yang sebenarnya setengah hati aku jalani.
Aku hanya bisa mengadu kepada Tuhan, namun mungkin jarak antara kami terlalu jauh. Orang bilang Tuhan hidup di dimensi yang berbeda. Di sebuah dimensi yan hanya bisa dimasuki melalui pintu gerbang yang bernama “kematian”.

Dan di sinilah aku, di depan seutas tali.

Senin, 21 Desember 2015

Sepucuk Surat

“Benar, aku tidak ingin ada seorang pun selain dia yang membacanya. Aku memohon padamu, sampaikanlah. Dia mata hatiku. Mata hati yang selalu ingin aku temui.”
“Masih segar di ingatanku, wajahnya yang putih dan bersinar diterpa sinar matahari pagi. Selalu, dia menyapaku lebih dulu dengan senyumnya yang meluluhkan hati. Aku senang, walau hanya bisa menatap kosong kepadanya. Mata bulat nan indah menghiasi wajahnya. Warna merah merona bertaburan di pipinya. Bibirnya yang mungil bagaikan sebuah garis yang digambar oleh seorang anak dengan penuh perasaan cinta. Bukankah dia seperti malaikat? Malaikat yang jatuh dan kebetulan bertemu diriku. Entah aku yang beruntung atau dia yang ditimpa sial, aku tidak tahu. Yang jelas, Tuhan telah berbaik hati mempertemukan kami berdua.”
“Aku senang melihatnya bahagia. Aku turut bersedih hati melihatnya bersedih. Entah dia merasakan hal yang sama denganku atau tidak, aku tidak peduli. Aku mencintainya. Aku mencintai malaikat itu. malaikat pagi yang selalu menyapa, dan membuatku merasakan cinta untuk pertama kalinya. Malaikat pertama yang selalu berada di sampingku tanpa tahu semua penderitaan ini. Aku tidak ingin dia tahu. Penderitaan ini aku simpan rapat-rapat darinya. Aku tidak ingin mata bulatnya yang indah itu dibanjiri akan air mata. Aku hanya ingin melihat matanya yang bulat itu menyipit, lalu membentuk garis melengkung seperti pelangi yang menyenangkan. Aku tidak ingin pipi merahnya yang merona dilalui oleh air mata layaknya sungai yang mengalir deras menuju hilir. Aku hanya ingin pipi merahnya yang merona itu semakin memerah tersipu olehku.”
“Aku tahu, aku terdengar egois. Tetapi, aku hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Ya benar, sesungguhnya kami berdua menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain. Namun, terkadang selalu ada sesuatu yang bergesekan ketika dua buah benda bertemu. Dan, selalu ada yang tergores, terkikis, terluka ketika gesekan itu terjadi. Layaknya sebuah benda, hati ini juga begitu. Walaupun hati ini menikmati pertemuan dengannya, aku tersadar. Akan ada goresan, akan ada sebuah luka. Bukan karena cinta. Melainkan karena sebuah rahasia. Memang rahasia sedap disimpan, namun sakit pula rasanya. Sakit rasanya ketika engkau harus mengorbankan sesuatu untuk rahasia itu.”
“Kini aku membagikan rahasiaku padamu. Ada sesuatu yang menggerogoti diriku. Mulai menjalar ketika aku bertemu dengannya. Aku yang sebelumnya menyerah. Tidak punya apa-apa untuk dipertahankan, sekarang memiliki sebuah harapan. Harapan yang semula terlihat lamat-lamat, namun semakin hari semakin terlihat terang keberadaanya. Begitu juga yang terjadi pada penyakit yang menggerogoti tubuhku ini, yang semakin hari semakin terlihat keberadaannya. Sekarang, aku mengerti. Tuhan Maha Adil. Ketika Dia menciptakan harapan, terlahir juga darinya sebuah keputusasaan. Aku belum siap untuk pergi, kau tahu. Aku masih ingin berlama-lama dengannya. Aku ingin berlama-lama melihat rembulan dengannya. Seperti yang biasa kami lakukan ketika ia mengajakku pergi ke taman, hanya sekedar untuk menghilankan penat. Di sana aku lebih memilih melihat wajahnya yang indah diterpa rembulan daripada melihat rembulan itu sendiri. dia tersenyum, melihat ke arahku. Aku palingkan wajahku kepada rembulan, melihatnya cemburu. Aku belum siap untuk pergi. Aku ingin berlama-lama dengannya. Aku ingin berlama-lama melihatnya tertawa dan tersenyum.”
“Aku menyadari sesuatu. Rasa cinta. Harapan itu berubah menjadi rasa cinta. Harapan yang aku besarkan sejak bertemu dengannya di sebuah café, ketika aku sedang sibuk memutuskan apakah aku akan tinggal lebih lama disini atau pergi saja secepatnya. Saat itu dia berdiri di depan seorang pelayan café, berbalik menatap ke arahku. Menunjuk-nunjuk, lalu berjalan menuju tempat dudukku. Dia menyapaku, mengajakku berkenalan. Matanya menatapku indah. Dia bertanya padaku sedang apa aku di sini. Menunggu seseorang jawabku. Dia hanya tersenyum. Menunggu hujan reda ucapnya. Untuk pertama kali dalam hidupku aku mencintai hujan saat itu. Aku terkesiap ketika ia mengenalkan dirinya. Aku bersyukur. Dia satu sekolah denganku. Saat itu aku berpikir, bahwa ini jawabannya. Aku memutuskan untuk tinggal lebih lama disini. Agar aku bisa bertemu dengannya lebih lama.”
“Lewat surat ini aku memberi tahu dirimu dan juga dirinya. Aku tidak akan lama lagi. Tuhan tidak melihat siap atau tidaknya seseorang untuk dijemput. Aku akan segera pulang kepangkuannya, entah kapan. Namun, aku tidak bersedih hati. Setidaknya hari-hari terakahirku adalah bersama dia. Dan, aku merasa itu adalah sebuah anugerah. Anugerah dari Tuhan yang menyuruhku untuk pulang. Tuhan yang memberikan hari-hari terakhir yang terbaik untukku. Dengan penyakit ini sebagai tiketku, aku akan segera menaiki keretanya. Sampaikan salamku padanya. Katakan aku sangat mencintainya. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Entah itu di dunia ini atau di akhirat nanti. Yang jelas, aku sangat mencintai dirinya.”
“AKU MENCINTAI ALYSA”
Seorang wanita terlihat menangis membaca surat itu. Dia berdiri, lalu berjalan menuju mobil miliknya. Melaju secepat yang ia bisa untuk pulang ke rumah. Abraham yang memeberikannya. Katanya itu adalah surat yang ditulis Raihan sebelum dia menginggal dunia.
Wanita itu tiba di rumahnya. Masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya. Menangis dan bertanya tentang betapa tidak adilnya Tuhan. Dia melihat kembali surat itu. membaliknya dan menemukan sebuah tulisan. Tulisan tangan yang indah. Dari tangan seorang lelaki yang amat dicintainya. Dia membaca tulisan itu dengan suara bergetar. Dengan air mata membasahi pipinya.

“Tuhan selalu adil Alysa, dia selalu memberikan anugerahnya.  - Raihan”

Minggu, 13 Desember 2015

Dia,Bukan aku.

Kembali aku memandangi layar ponselku. Kubaca lagi pesan singkat yang ia kirimkan padaku siang tadi. Sembari melihat jam dinding, aku berpikir sejenak. Akankah aku langkahkan kaki ini ke tempat yang ia pinta? Lagi. Kubaca pesan singkat itu.
“Sehabis maghrib ke taman ya?
Aku mau bicara sesuatu.” Begitu tulisnya.
Sebagian diriku menolak untuk pergi, sebagian lagi memaksa untuk pergi. Entah mana yang harus aku patuhi. Seharusnya aku sudah menjauhi dia sedari dulu, mengingat sekarang dia sudah ada yang punya. Hatiku mengalah kepada perasaan yang memaksaku untuk pergi. Alhasil tanpa diperintah kaki ini berjalan menuju taman.
Disana dia sudah menunggu. Melihat ke arahku. Tersenyum dia kepadaku. Tanganku melambai – lambai, seringai senyumku menjajarkan gigi – gigi yang sedang berbaris tegap kearahnya. Kenapa aku malah bersikap ramah kepadanya? Aku mengerti. Aku bodoh. Terlalu bodoh untuk mengabaikan wajah mungil dengan senyum menawan miliknya. “Dia sudah membuatmu kecewa” kataku kepada isi kepalaku yang kecil ini. Namun apa daya, kadang perasaan mampu mengalahkan logika.
Aku berjalan kearahnya. Dia menyapaku.
“Ari, kok telat sih? Biasanya kan kamu yang lebih dulu datang.” Dia masih tersenyum kepadaku. -Aku telat karena berpikir ribuan kali terlebih dahulu untuk menemuimu saat ini. Dan akhirnya aku datang. Mengorbankan logika. Mungkin juga perasaan-.
“Iya, tadi di perempatan ada yang rame – rame, gak tau apaan.” Jawabku berbohong. -Aku tahu, jika aku jujur kau akan sangat marah padaku. Walaupun seharusnya aku yang memarahimu. Menggerutu padamu karena telah meninggalkanku sendirian dalam sepi. Sekarang kau malah memintaku datang kepadamu-.
Aku duduk di dekatnya. Mulai membuka percakapan dengan sedikit basa – basi “Ada apa Nis?”. Mukaku memerah menanyakan hal itu padanya. Aku tidak percaya, aku berbicara dengannya lagi.
“Boleh gak aku curhat ke kamu?” Tanyanya padaku.
“Apa sih yang gak buat kamu Anissa?” Bah, munafik sekali aku ini.
“Beneran nih? Soalnya aku mau bicara tentang Ricko” ujarnya. –Ricko? Pacarmu itu? lelaki yang kau pilih ketimbang aku? Menurutmu kenapa aku ingin mendengar tentang dia?-.
“Iya ga papa kok” jawabku munafik (lagi).
Dia mulai berbicara panjang lebar tentang Ricko miliknya. Katanya Ricko sudah tidak seprti dulu lagi. Katanya Ricko sudah tidak sayang lagi kepadanya. “Lalu kenapa memilih bertahan dengannya?” tanyaku.
“Karena aku sayang Rikco, Ri.” jawabnya. Diriku tergtegun sejenak. Aku menyesal. Aku menyesal datang ke tempat ini. Kalau hanya untuk mendengarnya berkata betapa cintanya dia kepada kekasih hatinya itu. Untunglah hati ini masih segar belum membusuk. Aku bisa saja meninggalkannya ketika ia melempar perkataan itu padaku. Pergi menjauh lalu mengabaikannya. Tapi hati ini tidak bisa berbuat begitu. Sekali lagi, logika dikalahkan oleh perasaan.
Aku tidak tahu mau berkata apa. “Trus?” akhirnya aku bertanya.
“Aku mau minta pendapatmu, sebaiknya aku lanjut atau stop sama dia” jawabnya. Aih, melompat gembira hatiku. Ingin aku katakan “Ya putusin aja lah, buat apa jalan sama orang yang gak sayang sama kamu, bener gak?”. Namun, dalam sekejap gembira itu hilang. Aku tertegun kembali. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Akankah dia mencintaiku jika aku berbuat begitu? Membuatnya berpisah dengan orang yang dia sayangi. Tak tega aku melakukannya. Aku tertunduk lalu tersadar. Aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.
“Kalau menurutmu bagaimana?” tanyaku. Aku ingin mendengar apa yang dia akan katakan selanjutnya. Besar harapanku mendengar “ Aku mau putus sama dia Ri. Aku mau sama kamu” dari mulut manisnya. Menjijikkan, kenapa sekarang aku malah berfikir seperti itu? buang jauh – jauh fikiran itu.
“Nah karena itu aku memanggilmu kesini Ri, aku ingin mendengar pendapat teman terdekatku” jawabnya. Aku terkejut. Mataku terbelalak. Aku memandangnya. Aku mengerti. Selama ini dia menganggapku sebagai teman. –Hah? Teman? Kamu harus tahu bahwa aku menyimpan rasa padamu. Dan setelah apa yang kita lalui kau menganggapku teman. Benar – benar gadis yang hebat-.
Aku sudah tidak tahan, aku ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Apa ini yang terjadi? Tubuhku sama sekali tak mau bergerak. Aku memaksakan diri. Inginku langkahkan kaki ini. Namun, hati ini menghianatiku. Begitu juga dengan kaki ini. Mereka memilih bertahan walau sakit. Aku tidak mengerti. Kenapa? Kenapa aku harus diam disini? Hati dan kaki nan mungil itu tak menjawab. Aku kalah. Kali ini tak hanya kalah oleh hati, namun juga kaki.
“Menurutku, kalau kau sayang sama dia yang tetap jalanin aja” Sekarang bibir ini mengatakan sesuatu yang tak ingin aku katakan. Atau mungkin memang ini yang ingin aku katakan(?). Ah aku tidak mengerti.
“Tapi mau sampai kapan?” tanyanya.
“Sampai rasa sayang itu hilang dan tergantinkan oleh rasa yang baru” Jawabku spontan. Dia melihatku sejenak. Memiringkan kepalanya. Aku membalasnya dengan tatapan bingung.
“Maksudmu?” ucapnya. Apa yang harus aku katakan? Perkataanku barusan keluar dengan spontan. Aku salahkan hati. Namun, ia munujuk logika untuk menjawab. Kutanya logika. Dia diam seribu bahasa.
“Eh..maksudku, intinya jalanin aja.” Hufft akhirnya pertanyaan itu terjawab. Aku lolos. Hati dan logika tersenyum sumringah kepadaku. Aku lihat dia menunduk. Beberapa detik kemudian dia menatapku. Air mata membasahi pipinya. “Aku sudah gak tahan sama dia Ri, sebenarnya aku tuh suka sama kamu”. Ah fikiran itu lagi. Sudah kubilang untuk pergi jauh – jauh. Menjijikkkan. Kali ini aku yang tertunduk. Dia menepuk bahuku. Lalu berkata “Terima kasih ya Ri. Kamu sudah mau dengerin aku curhat”. Katanya.
“Sama – sama” jawabku sambil tersenyum. Itu adalah senyum paling palsu yang pernah menghiasi bibirku. Aku tidak ingin dia berterima kasih kepadaku dalam keadaan seperti ini. Andai saja dia tahu betapa besarnya perasaanku padanya. Aku tidak menyalahkan siapa – siapa karena aku tidak bisa memilkinya. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri. Diriku yang terlalu takut mengungkapkan. Sekarang baru terasa pedihnya. Ketika sang bunga dipetik tetangga yang entah darimana datangnya. Aku yang bagai sang kupu – kupu hanya bisa terdiam membisu. Bertanya kepada hati dan menangis bersamanya.
Sejurus dengan hatiku, langit pun mulai menangis.
“Eh hujan nih, pulang yuk, aku anterin” ujarku.
“Eh iya iya, ayo” jawabnya.
Sebelum kami tiba di rumahnya, hujan menangkap kami berdua. Kami berdiam di sebuah bengkel yang sudah tutup sejak sore tadi. Aku melihatnya menggigil kedingin. Kehujanan. Aku melirik jaketku. Hati ini menyuruh untuk memberikan jaket ini untuknya. Aku katakan tidak. Dia telah menyakitiku. Lagi – lagi perasaan itu datang. Tanganku bergerak, membuka jaket ini. Kukenakan jaket itu padanya. Dia terkejut. Menatap ke arahku lalu tersenyum dan berkata “Terima kasih ya Ri”
“Sama – sama” jawabku tersenyum. Kami mengobrol. Menunggu hujan reda.

Aku menatap dirinya yang sedang asyik bercerita. Aku hanya tidak mengerti dengan si Ricko itu. bodohnya dia mengabaikan gadis secantik Anisa. Bagiku, pria paling beruntung adalah pria yang saling memilki dengan Anissa. Tapi, sayangnya pria itu adalah dia. Bukan Aku.

Jumat, 04 Desember 2015

Matahari Senja

Laut, matahari senja, pantai. Semua itu berada di kepalanya. Teringat apa yang dilakukan selanjutnya. Selalu berpikir untuk tidak kehilangan waktu. Prinsip hidupnya yang sederhana, yang selalu berkata “tidak ada waktu untuk menghabiskan hidup dengan pertemanan ataupun percintaan. Hanya ada waktu untuk memikirkan masa depan”.
Sanjaya Prawira, siswa kelas sebelas SMAN 1 MATARAM. Seorang anak remaja yang selalu terobsesi dengan masa depan. Tubuh kecil, tinggi semampai dengan rambut keriting yang membungkus kepala mungilnya dimana selalu terdengar ucapan “jauhi orang – orang tak berguna, jangan punya teman” yang selalu berkeliling terngiang – ngiang disana.
Hari itu hari pertama dia masuk sekolah setelah menjalani setengah semesternya di kelas sebelas. Seperti hari – hari biasa, teman – temannya selalu menatap dirinya dengan tatapan  sinis, seolah – olah ingin berkata  “ah, si kutu buku sialan ini. Dia pasti senang, Karena dia tahu dia akan mendapat nilai yang bagus”. Hubungan dengan teman – teman kelasnya memang tak akur. Mereka menganggap Sanjaya adalah orang yang apatis. Dilihat dari faktanya, memang begitulah dia.
Pernah suatu hari salah seorang temannya bertanya tentang kenapa sanjaya selalu menyendiri dan tak punya teman. Jawabannya sederhana, sesederhana dirinya. “Aku tidak punya waktu untuk itu! Mengurus pertemanan hanya akan mencegahku lebih dekat dari apa yang aku cita – citakan”. Menurut Sanjaya, memiliki teman hanya akan memperlambat dirinya mencapai target yang dia inginkan. Kadang seseorang tidak mendapat pekerjaan yang dia inignkan, menurutnya hal ini terjadi karena kebanyakan orang sibuk meluangkan waktu mereka pada sesuatu yang tidak berguna, salah satunya pada sesuatu yang disebut “pertemanan”. Apatis memang iya, begitulah dirinya.
Pandangan matanya waktu itu tertuju pada seorang gadis yang bagi dirinya sangat tidak familiar. “murid barukah?” Tanya dirinya dalam hati.
“yah setidaknya semoga dia tidak berusaha mendekatiku”
Begitupun dengan murid – murid lainnya. Setiap mereka memasuki kelas tersebut, pandangan mata mereka selalu tertuju pada gadis mungil itu.
Pelajaran pertama hari itu dimulai dengan perkenalan murid baru – si gadis kecil –.
“Hai semuannya. Namaku Clara Sulistya. Usiaku 16 tahun. Aku pindahan dari SMAN 1 Praya”. Setelah ucapan itu terlempar, pertanyaan – pertanyaan datang menyerbu dirinya.
Sekarang sanjaya tahu nama gadis ini. Seorang gadis bernama Clara Sulistya. 16 tahun. Siswi pindahan dengan tubuh ideal dan tinggi sekitar 160 cm. Berbeda dengan dirinya, semua murid di kelas itu terlihat begitu hangat menyambut gadis kecil ini.
Seperti yang ditakutkan Sanjaya, tentu saja gadis itu berusaha membuat rubuh pertahanan perinsipnya yang selama ini dia anut. Tembok besar yang selama ini menghalangi banyak orang untuk memasuki kehidupannya, kini didepannya telah berdiri tegak seorang wanita dengan mulut terbuka lebar sambil berteriak pada sang empunya tembok “Akan kuhancurkan tembok ini”. 16 tahun tanpa hubungan special dengan orang lain – selain orang tuanya –. Hal ini tentu tidak akan membuat dirinya mudah goyah dari prinsipnya.
***
Jam istirahat pun tiba. Seperti biasa, dirinya pergi keatap sekolah. Duduk dan memakan makan siangnya. Apa yang dia lakukan disana? Menulis. Ingat prinsipnya? Ya, cita – cita Sanjaya adalah menjadi seorang penulis. Satu hal lagi yang perlu kalian tahu. Dia sangat tidak ingin diganggu (benci) ketika dalam berada dalam imajinasinya.
Baru 2 menit dia berada di sana, tubuh mungil Clara keluar dari pintu atap sekolah dengan sapaan khasnya. Tentu saja Clara bukan orang yang mudah menyerah, dan tentu saja hal itu membuat Sanjaya cukup kerepotan.
“Ha-Hai, kalau tidak salah kamu Sanjaya kan? Sedang apa kau di sini. Di sini cukup sepi. Apa itu tidak mengganggumu?” Tanya Clara.
“Satu – satunya hal yang mengganggu diriku di sini adalah kehadiranmu” jawab Sanjaya. “pergilah dan jangan pernah kembali”.
“Wow dingin sekali. Apa kau mengucapkan hal itu setiap kali ada seseorang yang mendatangimu?”.
“Ya, kecuali pada orang tuaku. Dengar, kau bukan yang pertama, jadi kumohon pergilah”.
“Tempat ini menarik” ucap Clara.
“Apa kau tidak dengar? Jika kemampuan bahasamu kurang, semoga dengan perkataanku ini kau dapat mengerti. Jauhi diriku, aku ingin kau pergi”
“Aye-ye kapten. Kau sungguh serperti kapten janggut merah, hanya saja kau tidak punya janggut di wajahmu haha” ucap Clara bercanda. Begitulah kiranya yang selalu terjadi setiap hari ketika Sanjaya berada di tempat meditasinya (atap gedung sekolah).
Clara adalah orang yang cukup gigih, dan itu cukup membuat Sanjaya khawatir. Baru kali ini dia merasa meragukan prinsipnya. “Gadis ini menyebalkan, atau aku yang salah dalam menanggapinya?” Tanyanya dalam hati. Ketika Clara selalu datang padanya ketertarikannya akan gadis ini muncul sedikit demi sedikit. Terus bertumbuh seperti sebuah tanaman.
Sampai suatu hari. Di atap sekolah.
“Kau tidak bosan diacuhkan olehku?” Tanya Sanjaya kepada Clara.
“Tentu tidak, memangnya kau pamanku? Ngomong – ngomong pamanku itu membosankan” ucap Clara.
“Pfft…” Sanjaya tersenyum kecil.
“Apa itu senyuman? Kau tersenyum. Di sana Tepat di bibirmu, kau tersennyum.” Kata Clara.
“Tidak, tidak. Aku hanya tersedak, memang begitu ketika aku tersedak”
Aku tidak ingin mengatakannya pada kalian, tapi sebenarnya Sanjaya tersenyum saat itu. Senyum paling tulus yang pernah ada. senyum paling tulus yang pernah ia keluarkan. Senyum pertamanya kepada orang lain (selain orang tuanya). Pertanda dari tembok pertahanannya yang runtuh perlahan – lahan mulai terlihat. Ketertarikannya pada Clara semakin hari semakin bertambah dan semakin tak terbendung. Prinsip lama yang dia anut kini semakin buram. Dia bahkan sudah tak terlalu peduli dengan prinsipnya yang dahulu. “Clara berhasil, clara berhasil membuat tembokku runtuh” Ucap sanjaya dalam hati sambil memandang wajah lugu nan polos Clara yang sedang tersenyum gembira melihat dirinya tersenyum. Kini wanita yang berteriak untuk menghancurkan tembok tersebut tengah berdiri dan bertatap muka dengan sang empunya tembok, dipisahkan oleh sebuah tembok yang sekarang telah setinggi setengah dirinya.
***
Karena setiap hari bertemu, Clara dan Sanjaya sudah mulai saling mengenal. Clara tahu bahwa Sanjaya lahir di kota Mataram pada tanggal 19 Januari 1999. Begitu juga sanjaya, ia tahu bahwa Clara lahir di kota Praya pada tanggal 24 November 1998 . Keduanya bahkan sudah saling bertukar alamat facebook dan e-mail. Sanjaya yang semula merupakan orang paling malas segalaksi dalam bermain facebook, kini menjadi orang terajin seantero Mataram. Satu – satunya alasan dia bermain facebook adalah untuk menunggu pemberitahuan komentar balasan dari Clara. Suara “ping” dari telepon genggamnya mungkin adalah suara terindah yang dia dengar saat ini. Mengalahkan suara “Jaya ayo turun makanannya sudah siap nih” dari ibunya. Begitulah setiap harinya, tidak puas bercengkrama di atas atap sekolah, dilanjutkan dengan chatinggan di media social.
Lalu apa sebenarnya yang dirasakan Sanjaya saat ini? Perasaan sinis yang berubah menjadi tertarik, kini telah berevolusi kembali menjadi perasaan yang disebut – sebut para pujangga sebagai “Cinta”. Hanya keberanianlah yang ditunggu Sanjaya kali ini. Bagai hilang alamat, perasaan berani tak kunjung jua datang kepadanya. Perlahan – lahan sanjaya mengumpulkannya, berharap suatu hari nanti dia bisa mengatakan perasaanya pada Clara.
19 November 2015, 5 hari lagi ulang tahun Clara. Entah tersambar jin apa dia selepas malam tadi sampai – sampai dia bergumam “ah 5 hari lagi, semoga itu adalah waktu yang tepat”. ini adalah pengalaman pertamanya menyatakan perasaan kepada seorang wanita. Dia gugup. Dia canggung. Takut akan gagal, takut akan ditolak. Tapi baginya selalu ada yang namanya pertama kali dalam seumur hidup. Pertama kali menyatakan cinta, pertama kali di terima dan mungkin saja pertama kali ditolak.
Lalu di atap sekolah (lagi).
“Ehm ulang tahunmu kan 5 hari lagi nih, mau kado apa?” Tanya Sanjaya malu – malu.
“Ahaha, apa saja asal jangan bunga kamboja.” Jawab Clara “Aku benci getah bunga kamboja”.
“Hmmm kalau aku tidak memberimu kado apapun bagaimana?”.
“Dengan kau datang ke pesta ulang tahunku saja itu sudah merupakan kado yang istimewa untukku” .
“baiklah, aku akan datang”.
“Aku tunggu ya, awas lho kalo tidak datang haha” kata Clara.
Bermalam – malam Sanjaya begadang hanya untuk memikirkan kado yang pas untuk Clara –plus memikirkan kata – kata yang pas pada hari eksekusi nantinya.
Akhirnya hari itu tiba. Apa yang paling ditunggu Sanjaya hari itu adalah bunyi lonceng jam yang menandakan pukul empat sore. Pukul empat sore rumah Clara sudah ramai dikunjungi sanak saudara dan teman – temannya. Senyum dan tawa dari Clara lepas begitu saja membagikan kebahagiaan kepada semua orang yang berada di tempat itu. Tak terkecuali Sanjaya. Dengan perasaan deg-degan yang super – duper luar biasa dia melangkah menuju Clara.
“He-Hei Clara” panggil Sanjaya.
Tiba – tiba semua orang menjadi riuh (khususnya teman – teman Clara). Dalam benaknya Sanjaya bertanya “Apa yang sedang terjadi?”. Jaraknya yang cukup jauh dari Clara membuat dirinya tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Melangkahlah dia menuju Clara dengan penuh rasa ingin tahu. Satu persatu orang disingkirkannya. Sampai pada akhirnya sampailah dia di tempat di mana semuanya terlihat jelas. Remuklah dia. Apa yang terjadi?
“Wuihhihihi Clara ditembak sama Rudi, aku harap Clara menerimanya. Mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok”. Itulah setidaknya kata – kata yang mewakili apa yang sebenarnya terjadi. Seorang pria, tinggi, bertubuh ideal, hobi bermain basket, wajah tampan dan keluarga mapan. Dengan segala yang dia miliki, siapa yang tak kenal Rudi Hartono? Usut punya usut, Rudi juga sebenarnya punya rasa kepada Clara. Sama seperti Sanjaya, Rudi juga punya niatan untuk mengungkapkan perasaannya pada Clara di acara ulang tahunnya.
Semua orang semakin riuh meneriaki dua sejoli yang sedang bertatap muka. Clara yang tersenyum simpul dengan Rudi yang terduduk tegap. Sebagian dari mereka berteriak “Terima..Terimaa” dan sebagiannya lagi berteriak “Cieee jadian…jadian..”. Sanjaya yang hanya seorang anak sederhana dengan impian besar hanya bisa tertunduk lalu meremas kado yang telah ia siapkan sedari 5 hari yang lalu. Dibuanglah kado itu olehnya.Kado berupa puisi yang masih terjaga kerahasiaannya. Kalang kabutlah dirinya. Perasaannya bercampur aduk. Tapi mau dikata apa? mau marah? mau dongkol? mau benci? Dia sadar bahwa sekarang seorang wanita yang telah meruntuhkan temboknya kini telah pergi dengan seorang pangeran berkuda putih ke sebuah kerajaan nan makmur. Sementara itu sang empunya tembok sibuk  membangun kembali temboknya. Jika dulu dia membangun temboknya dengan semangat dan harapan, kini dia membangun temboknya dengan sakit hati dan keputusasaan. Sekarang kalian tahu kenapa Sanjaya tidak ingin berteman. Alasan – alasan omong kosong tentang cita – cita itu hanyalah kedok belaka. Alasan yang sebenarnya adalah hal yang sedang terjadi padanya saat ini. Dia takut. Dia takut dikecewakan. Sesederhana itu. Sesederhana dirinya.
Dia pulang dengan hati yang tercabik – cabik. Wanita yang ia sukai sekarang sudah milik orang lain. Jika saja Sanjaya seperti remaja  - remaja yang lain. Mungkin dia sudah pulang dengan berlinang air mata. Tetapi tidak dengan dirinya. Dia pulang membawa pelajaran. Pelajaran berharga tentang kepercayaan. Pelajaran berharga tentang arti dari kekecewaan.
Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Clara? Apa benar dia menerima Rudi?
Sementara Sanjaya di jalan pulang. Riuh di pesta ulang tahun Clara berubah menjadi keheningan. Menunggu jawaban sang putri.
“Jadi?” Tanya rudi dengan harap – harap cemas.
“Ma-maafkan aku Rudi. Kau memang cowok yang hebat, tapi seseorang telah mengisi hatiku. Seseorang telah mengisinya dengan sinar Matahari senja yang indah. Sekali lagi maafkan aku. Hanya saja aku tidak mungkin membiarkan Matahari senja ini berubah menjadi gelapnya malam” jawab Clara
***
Tembok itu sudah lebih kuat, karena dibangun dari sakit pahitnya pengalaman. Bagaimana dengan Clara?
Hari itu diatap sekolah setelah satu bulan lebih mereka tidak bicara. Clara memberanikan diri untuk menghampiri Sanjaya.
“Anuu Jaya.. sebenarnya ada apa sih? Akhir – akhir ini kita tidak pernah bicara lagi” Tanya Clara.
“Tidak ada. aku hanya mencoba menyendiri lagi” jawab Sanjaya.
“Hei kau tidak perlu menyendiri, kan ada aku disini”
“….” Sanjaya terdiam membisu
“Hufft aduh bagaimana ya?”
Untuk sekedar informasi, hari itu adalah hari ulang tahun Sanjaya.
“Kamu marah sama aku? Seharusnya aku yang marah. Soalnya kamu tidak datang di acara ulang tahunku” kata Clara “Sekarang aku datang di hari ulang tahunmu lho, walaupun tidak seramai ulang tahunku”.
“terus?” Tanya Sanjaya.
“Kalau boleh aku ingin membacakan sesuatu untukmu, sebagai kado ulang tahunmu dariku”
“Terserahlah”
“Dengar baik – baik ya. Aku menghapalkan ini dengan susah payah lho
Rindang pohon berselimut daun
Berung penyendiri di atas sangkar
Melihat burung lain terbang menari
Irikah dia? Tidak
Apa gerangan yang ia tunggu?
Sentuhan lembut penuh kemesraan
Ajakan tangan menuju kebebasan
Irikah dia? Tidak
Ramai – ramai burung terbang
Tanpa sangkar tanpa kekang
Di atas awan dengan girang
Irikah dia? Tidak
Burung penyendiri tak sendiri
Disebelahnya berdiri kekasih hati.
Sanjaya terkejut.
“i-itu kan?” Tanya Sanjaya.
“Ya ini puisimu.” Jawab Clara.
“Ta-tapi bagaimana bisa?”
“Sejujurnya aku melihatmu hari itu. Sayangnya kau membuang kado terindahmu untukku. Aku menunggumu hari itu.”
“Ma-maafkan aku. Tapi bagaimana dengan Rudi” Sanjaya tertunduk menyesal.
“Rudi? Hahaha cowok yang kekanak – kanakan seperti dia sama sekali bukan tipeku” kata Clara.“Haaaah jadi karena ini hari ulang tahunmu, aku tidak akan memberikanmu satu kado saja, aku punya kado lain” ucap Clara. “Jadi ak..” ucapan Clara terhenti oleh senggahan dari Sanjaya.
“Hentikan, aku akan merubah kebiasaan kita sedikit. Jika biasanya yang berulang tahun yang diberikan kado, kali ini yang berulang tahun yang memberikan kado” Kata Sanjaya.
“Haha apa itu?”
Saat itulah rasa kecewa tergantikan. Diisi oleh sebuah keberanian. Jika kalian tidak percaya dengan hati manusia yang bisa menghilangkan rasa kecewa, kalian harus belajar lagi. Hati manusia tidak serumit itu. Kadang hati dan pikiran yang  sederhana sudah lebih dari cukup untuk memahami seperti apa sebenarnya manusia itu. Kalian tidak percaya? Sanjayalah buktinya.
“Maukah kau menjadi kekasih hati burung penyendiri ini? Menemaninya melihat burung yang terbang tanpa ada rasa iri sedikitpun?” Tanya Sanjaya.
“Tentu saja Matahari Senjaku” Jawab Clara.