Total Tayangan Halaman

Senin, 21 Desember 2015

Sepucuk Surat

“Benar, aku tidak ingin ada seorang pun selain dia yang membacanya. Aku memohon padamu, sampaikanlah. Dia mata hatiku. Mata hati yang selalu ingin aku temui.”
“Masih segar di ingatanku, wajahnya yang putih dan bersinar diterpa sinar matahari pagi. Selalu, dia menyapaku lebih dulu dengan senyumnya yang meluluhkan hati. Aku senang, walau hanya bisa menatap kosong kepadanya. Mata bulat nan indah menghiasi wajahnya. Warna merah merona bertaburan di pipinya. Bibirnya yang mungil bagaikan sebuah garis yang digambar oleh seorang anak dengan penuh perasaan cinta. Bukankah dia seperti malaikat? Malaikat yang jatuh dan kebetulan bertemu diriku. Entah aku yang beruntung atau dia yang ditimpa sial, aku tidak tahu. Yang jelas, Tuhan telah berbaik hati mempertemukan kami berdua.”
“Aku senang melihatnya bahagia. Aku turut bersedih hati melihatnya bersedih. Entah dia merasakan hal yang sama denganku atau tidak, aku tidak peduli. Aku mencintainya. Aku mencintai malaikat itu. malaikat pagi yang selalu menyapa, dan membuatku merasakan cinta untuk pertama kalinya. Malaikat pertama yang selalu berada di sampingku tanpa tahu semua penderitaan ini. Aku tidak ingin dia tahu. Penderitaan ini aku simpan rapat-rapat darinya. Aku tidak ingin mata bulatnya yang indah itu dibanjiri akan air mata. Aku hanya ingin melihat matanya yang bulat itu menyipit, lalu membentuk garis melengkung seperti pelangi yang menyenangkan. Aku tidak ingin pipi merahnya yang merona dilalui oleh air mata layaknya sungai yang mengalir deras menuju hilir. Aku hanya ingin pipi merahnya yang merona itu semakin memerah tersipu olehku.”
“Aku tahu, aku terdengar egois. Tetapi, aku hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Ya benar, sesungguhnya kami berdua menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain. Namun, terkadang selalu ada sesuatu yang bergesekan ketika dua buah benda bertemu. Dan, selalu ada yang tergores, terkikis, terluka ketika gesekan itu terjadi. Layaknya sebuah benda, hati ini juga begitu. Walaupun hati ini menikmati pertemuan dengannya, aku tersadar. Akan ada goresan, akan ada sebuah luka. Bukan karena cinta. Melainkan karena sebuah rahasia. Memang rahasia sedap disimpan, namun sakit pula rasanya. Sakit rasanya ketika engkau harus mengorbankan sesuatu untuk rahasia itu.”
“Kini aku membagikan rahasiaku padamu. Ada sesuatu yang menggerogoti diriku. Mulai menjalar ketika aku bertemu dengannya. Aku yang sebelumnya menyerah. Tidak punya apa-apa untuk dipertahankan, sekarang memiliki sebuah harapan. Harapan yang semula terlihat lamat-lamat, namun semakin hari semakin terlihat terang keberadaanya. Begitu juga yang terjadi pada penyakit yang menggerogoti tubuhku ini, yang semakin hari semakin terlihat keberadaannya. Sekarang, aku mengerti. Tuhan Maha Adil. Ketika Dia menciptakan harapan, terlahir juga darinya sebuah keputusasaan. Aku belum siap untuk pergi, kau tahu. Aku masih ingin berlama-lama dengannya. Aku ingin berlama-lama melihat rembulan dengannya. Seperti yang biasa kami lakukan ketika ia mengajakku pergi ke taman, hanya sekedar untuk menghilankan penat. Di sana aku lebih memilih melihat wajahnya yang indah diterpa rembulan daripada melihat rembulan itu sendiri. dia tersenyum, melihat ke arahku. Aku palingkan wajahku kepada rembulan, melihatnya cemburu. Aku belum siap untuk pergi. Aku ingin berlama-lama dengannya. Aku ingin berlama-lama melihatnya tertawa dan tersenyum.”
“Aku menyadari sesuatu. Rasa cinta. Harapan itu berubah menjadi rasa cinta. Harapan yang aku besarkan sejak bertemu dengannya di sebuah café, ketika aku sedang sibuk memutuskan apakah aku akan tinggal lebih lama disini atau pergi saja secepatnya. Saat itu dia berdiri di depan seorang pelayan café, berbalik menatap ke arahku. Menunjuk-nunjuk, lalu berjalan menuju tempat dudukku. Dia menyapaku, mengajakku berkenalan. Matanya menatapku indah. Dia bertanya padaku sedang apa aku di sini. Menunggu seseorang jawabku. Dia hanya tersenyum. Menunggu hujan reda ucapnya. Untuk pertama kali dalam hidupku aku mencintai hujan saat itu. Aku terkesiap ketika ia mengenalkan dirinya. Aku bersyukur. Dia satu sekolah denganku. Saat itu aku berpikir, bahwa ini jawabannya. Aku memutuskan untuk tinggal lebih lama disini. Agar aku bisa bertemu dengannya lebih lama.”
“Lewat surat ini aku memberi tahu dirimu dan juga dirinya. Aku tidak akan lama lagi. Tuhan tidak melihat siap atau tidaknya seseorang untuk dijemput. Aku akan segera pulang kepangkuannya, entah kapan. Namun, aku tidak bersedih hati. Setidaknya hari-hari terakahirku adalah bersama dia. Dan, aku merasa itu adalah sebuah anugerah. Anugerah dari Tuhan yang menyuruhku untuk pulang. Tuhan yang memberikan hari-hari terakhir yang terbaik untukku. Dengan penyakit ini sebagai tiketku, aku akan segera menaiki keretanya. Sampaikan salamku padanya. Katakan aku sangat mencintainya. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Entah itu di dunia ini atau di akhirat nanti. Yang jelas, aku sangat mencintai dirinya.”
“AKU MENCINTAI ALYSA”
Seorang wanita terlihat menangis membaca surat itu. Dia berdiri, lalu berjalan menuju mobil miliknya. Melaju secepat yang ia bisa untuk pulang ke rumah. Abraham yang memeberikannya. Katanya itu adalah surat yang ditulis Raihan sebelum dia menginggal dunia.
Wanita itu tiba di rumahnya. Masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya. Menangis dan bertanya tentang betapa tidak adilnya Tuhan. Dia melihat kembali surat itu. membaliknya dan menemukan sebuah tulisan. Tulisan tangan yang indah. Dari tangan seorang lelaki yang amat dicintainya. Dia membaca tulisan itu dengan suara bergetar. Dengan air mata membasahi pipinya.

“Tuhan selalu adil Alysa, dia selalu memberikan anugerahnya.  - Raihan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar