“Benar, aku tidak ingin
ada seorang pun selain dia yang membacanya. Aku memohon padamu, sampaikanlah.
Dia mata hatiku. Mata hati yang selalu ingin aku temui.”
“Masih segar di
ingatanku, wajahnya yang putih dan bersinar diterpa sinar matahari pagi.
Selalu, dia menyapaku lebih dulu dengan senyumnya yang meluluhkan hati. Aku
senang, walau hanya bisa menatap kosong kepadanya. Mata bulat nan indah
menghiasi wajahnya. Warna merah merona bertaburan di pipinya. Bibirnya yang
mungil bagaikan sebuah garis yang digambar oleh seorang anak dengan penuh
perasaan cinta. Bukankah dia seperti malaikat? Malaikat yang jatuh dan
kebetulan bertemu diriku. Entah aku yang beruntung atau dia yang ditimpa sial,
aku tidak tahu. Yang jelas, Tuhan telah berbaik hati mempertemukan kami
berdua.”
“Aku senang melihatnya
bahagia. Aku turut bersedih hati melihatnya bersedih. Entah dia merasakan hal
yang sama denganku atau tidak, aku tidak peduli. Aku mencintainya. Aku
mencintai malaikat itu. malaikat pagi yang selalu menyapa, dan membuatku
merasakan cinta untuk pertama kalinya. Malaikat pertama yang selalu berada di
sampingku tanpa tahu semua penderitaan ini. Aku tidak ingin dia tahu.
Penderitaan ini aku simpan rapat-rapat darinya. Aku tidak ingin mata bulatnya yang
indah itu dibanjiri akan air mata. Aku hanya ingin melihat matanya yang bulat
itu menyipit, lalu membentuk garis melengkung seperti pelangi yang
menyenangkan. Aku tidak ingin pipi merahnya yang merona dilalui oleh air mata
layaknya sungai yang mengalir deras menuju hilir. Aku hanya ingin pipi merahnya
yang merona itu semakin memerah tersipu olehku.”
“Aku tahu, aku
terdengar egois. Tetapi, aku hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Ya
benar, sesungguhnya kami berdua menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain.
Namun, terkadang selalu ada sesuatu yang bergesekan ketika dua buah benda
bertemu. Dan, selalu ada yang tergores, terkikis, terluka ketika gesekan itu
terjadi. Layaknya sebuah benda, hati ini juga begitu. Walaupun hati ini
menikmati pertemuan dengannya, aku tersadar. Akan ada goresan, akan ada sebuah
luka. Bukan karena cinta. Melainkan karena sebuah rahasia. Memang rahasia sedap
disimpan, namun sakit pula rasanya. Sakit rasanya ketika engkau harus mengorbankan
sesuatu untuk rahasia itu.”
“Kini aku membagikan
rahasiaku padamu. Ada sesuatu yang menggerogoti diriku. Mulai menjalar ketika
aku bertemu dengannya. Aku yang sebelumnya menyerah. Tidak punya apa-apa untuk
dipertahankan, sekarang memiliki sebuah harapan. Harapan yang semula terlihat
lamat-lamat, namun semakin hari semakin terlihat terang keberadaanya. Begitu
juga yang terjadi pada penyakit yang menggerogoti tubuhku ini, yang semakin
hari semakin terlihat keberadaannya. Sekarang, aku mengerti. Tuhan Maha Adil.
Ketika Dia menciptakan harapan, terlahir juga darinya sebuah keputusasaan. Aku
belum siap untuk pergi, kau tahu. Aku masih ingin berlama-lama dengannya. Aku
ingin berlama-lama melihat rembulan dengannya. Seperti yang biasa kami lakukan
ketika ia mengajakku pergi ke taman, hanya sekedar untuk menghilankan penat. Di
sana aku lebih memilih melihat wajahnya yang indah diterpa rembulan daripada
melihat rembulan itu sendiri. dia tersenyum, melihat ke arahku. Aku palingkan
wajahku kepada rembulan, melihatnya cemburu. Aku belum siap untuk pergi. Aku
ingin berlama-lama dengannya. Aku ingin berlama-lama melihatnya tertawa dan
tersenyum.”
“Aku menyadari sesuatu.
Rasa cinta. Harapan itu berubah menjadi rasa cinta. Harapan yang aku besarkan
sejak bertemu dengannya di sebuah café, ketika aku sedang sibuk memutuskan
apakah aku akan tinggal lebih lama disini atau pergi saja secepatnya. Saat itu
dia berdiri di depan seorang pelayan café, berbalik menatap ke arahku.
Menunjuk-nunjuk, lalu berjalan menuju tempat dudukku. Dia menyapaku, mengajakku
berkenalan. Matanya menatapku indah. Dia bertanya padaku sedang apa aku di
sini. Menunggu seseorang jawabku. Dia hanya tersenyum. Menunggu hujan reda
ucapnya. Untuk pertama kali dalam hidupku aku mencintai hujan saat itu. Aku
terkesiap ketika ia mengenalkan dirinya. Aku bersyukur. Dia satu sekolah
denganku. Saat itu aku berpikir, bahwa ini jawabannya. Aku memutuskan untuk
tinggal lebih lama disini. Agar aku bisa bertemu dengannya lebih lama.”
“Lewat surat ini aku
memberi tahu dirimu dan juga dirinya. Aku tidak akan lama lagi. Tuhan tidak
melihat siap atau tidaknya seseorang untuk dijemput. Aku akan segera pulang
kepangkuannya, entah kapan. Namun, aku tidak bersedih hati. Setidaknya
hari-hari terakahirku adalah bersama dia. Dan, aku merasa itu adalah sebuah
anugerah. Anugerah dari Tuhan yang menyuruhku untuk pulang. Tuhan yang
memberikan hari-hari terakhir yang terbaik untukku. Dengan penyakit ini sebagai
tiketku, aku akan segera menaiki keretanya. Sampaikan salamku padanya. Katakan
aku sangat mencintainya. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Entah itu di dunia
ini atau di akhirat nanti. Yang jelas, aku sangat mencintai dirinya.”
“AKU MENCINTAI ALYSA”
Seorang wanita terlihat
menangis membaca surat itu. Dia berdiri, lalu berjalan menuju mobil miliknya.
Melaju secepat yang ia bisa untuk pulang ke rumah. Abraham yang memeberikannya.
Katanya itu adalah surat yang ditulis Raihan sebelum dia menginggal dunia.
Wanita itu tiba di
rumahnya. Masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya. Menangis dan bertanya
tentang betapa tidak adilnya Tuhan. Dia melihat kembali surat itu. membaliknya
dan menemukan sebuah tulisan. Tulisan tangan yang indah. Dari tangan seorang
lelaki yang amat dicintainya. Dia membaca tulisan itu dengan suara bergetar.
Dengan air mata membasahi pipinya.
“Tuhan selalu adil Alysa,
dia selalu memberikan anugerahnya. -
Raihan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar