“Mau kemana?” Tanyanya
padaku. Aku hanya tersenyum kepadanya, terlalu malas untuk menjawab. Pun jika
aku menjawab, dia tidak akan mendengarnya. Suara gendang, suara orang-orang,
semuanya terlalu keras. Toh, setelah melihatku tersenyum, dia melanjutkan
pandangan matanya pada biduan wanita yang sedang asyik berdendang itu.
Diriku perlahan
memunggunginya, berjalan membelah sesak. Menuju ke tempat di mana mungkin
harapan itu masih ada. Sedikit ku perlambat langkah kakiku untuk sejenak
menikmati keramaian ini. Bukankah ini yang aku cari? Tempat yang jauh dari
sepi? Namun, kenapa hati ini tidak merasakan kenyamanan berada di sini? Aku
memejamkan mata, berusaha menghilangkan keabuan dalam benakku.
Mereka tertawa, seakan
dunia sama indahnya dengan surga. Tanpa mereka sadari bahwa dunia ini hanya
sementara. Setidaknya, begitulah kata para tetua. Aku mulai bertanya, seindah
apa sih surga itu? Ah, pertanyaan bodoh, gumamku.
Aku mulai berjalan
lagi, meninggalkan kerumunan yang sedang riang gembira itu. Teriakan
masing-masing dari mereka sungguh memekakkan telinga. Terasa seperti pisau
tajam yang mulai menusuk hati. Merobek lebar pintu iri dan dengki yang sudah
sekian lama menanti. Namun siapakah sebenarnya yang dibenci hati? Mereka atau pilihan
ini?
Akhirnya, udara terasa
segar. Sepasang paru-paru ini terasa lega, keluar dari kerumunan yang
menyesakkan dada. Langkah kaki mulai berjalan lagi. Menuju ke tempat di mana
mungkin harapan itu masih ada. sejenak ku longokkan kepala ke atas hanya untuk
melihat indahnya susunan bintang. Lalu kemudian menatap lagi kedapan, lunglai
berjalan menuju ke tempat harapan.
Di sinilah aku, di
depan sebuah pintu kayu. Tua, namun masih bisa dipercaya kekuatannya. Tanganku
merayap ke saku belakang, mencari-cari kunci dari pintu yang siap dibuka ini.
Masuk lebih dalam, terasa onggokan besi kecil teraba oleh tangan. Dengan
sedikit tarikan, kunci itu keluar, lalu masuk lagi, kali ini ke sebuah lubang
kunci.
Pintu itu berderit,
terbuka lebar. Tanganku mulai meraba-raba saklar yang seingatku berada di
sebalah kanan daun pintu. Ctek! Lampu menyala, menampakkan seutas tali dengan
simpul lasso yang sedang menganga
lebar.
Di sinilah aku, di
depan seutas tali.
***
“Hah? Dasar kau tidak
bertanggung jawab.” Seorang pria tua berteriak, terdengar oleh orang-orang di
sekelilingnya. “Untuk apa kau waktu itu berkata sanggup?”
“Maafkan aku kang, aku
tidak bisa.”
“Bedebah.”
“Tapi memang begitu
kang, aku tidak bisa menjalani pekerjaan
yang di mana aku sendiri tidak menyukai pekerjaan itu.” ucap pria muda
itu membela diri.
“Lalu, kenapa kau
bersumpah serapah menyanggupinya saat itu?”
“Aku khilaf kang, kalau
saja aku tahu pekerjaannya seperti itu, mana mungkin aku mau? Aku tidak cocok”
“Ah, alasanmu saja.
Dengar, pekerjaan itu sangat cocok untukmu. Lagipula, orang-orang menyanjungmu
bukan?” pria tua itu menghela napas. “Dan kau tahu? Yang rugi itu kamu bukan
aku.”
“Lalu, kenapa akang
marah-marah dengan pilihanku ini?”
“Karena … orang-orang
akan mulai membencimu, dan akang tidak mau itu terjadi. Kamu akan malu seumur
hidup, dan tidak bisa lari dari kenyataan, orang-orang yang memilihmu akan
menjauh darimu.”
“Biarkan saja.”
Ketusnya. “Ini pilihanku.”
“Terserah..”
***
Aku menghela napas,
bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku menyesali pilihanku ini? Iya, aku
menyesal. Aku selalu dihantui rasa cemas. Karena telah menjalani pilihan yang
sebenarnya setengah hati aku jalani.
Aku hanya bisa mengadu
kepada Tuhan, namun mungkin jarak antara kami terlalu jauh. Orang bilang Tuhan
hidup di dimensi yang berbeda. Di sebuah dimensi yan hanya bisa dimasuki
melalui pintu gerbang yang bernama “kematian”.
Dan di sinilah aku, di
depan seutas tali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar