Total Tayangan Halaman

Sabtu, 26 Desember 2015

Secercah harapan yang hilang

“Mau kemana?” Tanyanya padaku. Aku hanya tersenyum kepadanya, terlalu malas untuk menjawab. Pun jika aku menjawab, dia tidak akan mendengarnya. Suara gendang, suara orang-orang, semuanya terlalu keras. Toh, setelah melihatku tersenyum, dia melanjutkan pandangan matanya pada biduan wanita yang sedang asyik berdendang itu.
Diriku perlahan memunggunginya, berjalan membelah sesak. Menuju ke tempat di mana mungkin harapan itu masih ada. Sedikit ku perlambat langkah kakiku untuk sejenak menikmati keramaian ini. Bukankah ini yang aku cari? Tempat yang jauh dari sepi? Namun, kenapa hati ini tidak merasakan kenyamanan berada di sini? Aku memejamkan mata, berusaha menghilangkan keabuan dalam benakku.
Mereka tertawa, seakan dunia sama indahnya dengan surga. Tanpa mereka sadari bahwa dunia ini hanya sementara. Setidaknya, begitulah kata para tetua. Aku mulai bertanya, seindah apa sih surga itu? Ah, pertanyaan bodoh, gumamku. 
Aku mulai berjalan lagi, meninggalkan kerumunan yang sedang riang gembira itu. Teriakan masing-masing dari mereka sungguh memekakkan telinga. Terasa seperti pisau tajam yang mulai menusuk hati. Merobek lebar pintu iri dan dengki yang sudah sekian lama menanti. Namun siapakah sebenarnya yang dibenci hati? Mereka atau pilihan ini?
Akhirnya, udara terasa segar. Sepasang paru-paru ini terasa lega, keluar dari kerumunan yang menyesakkan dada. Langkah kaki mulai berjalan lagi. Menuju ke tempat di mana mungkin harapan itu masih ada. sejenak ku longokkan kepala ke atas hanya untuk melihat indahnya susunan bintang. Lalu kemudian menatap lagi kedapan, lunglai berjalan menuju ke tempat harapan.
Di sinilah aku, di depan sebuah pintu kayu. Tua, namun masih bisa dipercaya kekuatannya. Tanganku merayap ke saku belakang, mencari-cari kunci dari pintu yang siap dibuka ini. Masuk lebih dalam, terasa onggokan besi kecil teraba oleh tangan. Dengan sedikit tarikan, kunci itu keluar, lalu masuk lagi, kali ini ke sebuah lubang kunci.
Pintu itu berderit, terbuka lebar. Tanganku mulai meraba-raba saklar yang seingatku berada di sebalah kanan daun pintu. Ctek! Lampu menyala, menampakkan seutas tali dengan simpul lasso yang sedang menganga lebar.
Di sinilah aku, di depan seutas tali.
***
“Hah? Dasar kau tidak bertanggung jawab.” Seorang pria tua berteriak, terdengar oleh orang-orang di sekelilingnya. “Untuk apa kau waktu itu berkata sanggup?”
“Maafkan aku kang, aku tidak bisa.”
“Bedebah.”
“Tapi memang begitu kang, aku tidak bisa menjalani pekerjaan  yang di mana aku sendiri tidak menyukai pekerjaan itu.” ucap pria muda itu membela diri.
“Lalu, kenapa kau bersumpah serapah menyanggupinya saat itu?”
“Aku khilaf kang, kalau saja aku tahu pekerjaannya seperti itu, mana mungkin aku mau? Aku tidak cocok”
“Ah, alasanmu saja. Dengar, pekerjaan itu sangat cocok untukmu. Lagipula, orang-orang menyanjungmu bukan?” pria tua itu menghela napas. “Dan kau tahu? Yang rugi itu kamu bukan aku.”
“Lalu, kenapa akang marah-marah dengan pilihanku ini?”
“Karena … orang-orang akan mulai membencimu, dan akang tidak mau itu terjadi. Kamu akan malu seumur hidup, dan tidak bisa lari dari kenyataan, orang-orang yang memilihmu akan menjauh darimu.”
“Biarkan saja.” Ketusnya. “Ini pilihanku.”
“Terserah..”
***
Aku menghela napas, bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku menyesali pilihanku ini? Iya, aku menyesal. Aku selalu dihantui rasa cemas. Karena telah menjalani pilihan yang sebenarnya setengah hati aku jalani.
Aku hanya bisa mengadu kepada Tuhan, namun mungkin jarak antara kami terlalu jauh. Orang bilang Tuhan hidup di dimensi yang berbeda. Di sebuah dimensi yan hanya bisa dimasuki melalui pintu gerbang yang bernama “kematian”.

Dan di sinilah aku, di depan seutas tali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar