Pemuda dalam balutan kaos hitam itu berlari menembus hujan.
Menatap ke sebuah warung kecil sebagai tujuannya. Dilihatnya pintu warung
menganga lebar. Dengan sigap ia masuk ke dalamnya, dan mengambil tempat duduk
di sebuah kursi panjang yang ketika diduduki olehnya terasa bergoyang lemah.
Tidak banyak orang disana, hanya dia, pemilik warung, dan empat orang berkemeja
putih yang terlihat sedang menikmati kopi.
Hujan semakin deras, bunyi atap seng berkarat itu pun semakin
keras. Melantunkan lagu abstrak yang terdengar membawa kesunyian ke dalam
setiap hati yang mendengarnya. Pemilik warung yang sudah berumur itu
mendekatinya. Dari dekat, tampak jelas rupanya. Matanya yang sayu, bibirnya
yang keriput, serta kulitnya yang berlipat-lipat. Kakek itu tersenyum padanya,
“Kopi den?” begitu ucapnya.
“Teh saja mang,” jawab pemuda itu.
Kakek tua itu hanya mengangguk, lalu membalikkan tubuh
kurusnya meninggalkan si pemuda yang kali ini terlihat melamun. Lamunannya
mengarah kepada berjuta kenangan yang telah ia lalui di kota ini, sebelum ia
pergi untuk menjejakkan kaki di tanah rantau yang ia cintai. Namun,
bagaimanapun ia mencintai tanah rantaunya, tak bisa ia pungkiri bahwa tanah
asalnyalah yang lebih banyak menyimpan kenangan. Mungkin karena itu ia lebih
mencintai tanah rantaunya? karena tanah ini menyimpan begitu banyak kenangan
untuknya. Kenangan yang tajam bak belati yang siap menusuknya kapan saja.
Tidak, tentu dia tidak akan ambil pusing untuk menggali-gali kenangan itu
kembali. Biarlah belati itu terkubur.
Kakek tua itu datang kembali, kali ini dengan segelas teh
panas di tangannya.
“Silahkan den.” Ucapnya kakek tua itu menyuguhkan.
“Terima kasih mang.” Pemuda tersenyum.
“Den, temannya ndak diajak?” kakek tua itu bertanya.
Pemuda itu terkejut. “Ah,
ingatan itu lagi.” Gumamnya dalam hati.
***
“Hei, kita mampir disana sebentar,” Ucap Beni menunjuk ke
arah sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan. “Kita nongkrong di
sana sebentar.”
Teguh mengangguk, mengiyakan perkataan temannya.
Mereka berdua masuk, mengambil tempat duduk. Beni melepaskan
tasnya, meletakkannya di atas meja.
“Mang, es teh dua.”
Pemilik warung itu spontan menoleh ke arah sumber suara, “Oke
den.” Ucapanya.
Sembari menunggu es teh itu datang, Beni membuka suara,
mengajak Teguh berbincang. “Gimana? Kamu ikut kan?”
“Aku juga gak tahu Ben, kamu tahu kan nilai raportku jelek.”
“Ayolah, sesekali liburan gak apa-apa dong. Orang tuamu pasti
ngerti.”
“Ya, aku harap sih begitu.”
Es teh itu akhirnya datang, bersiap menemani obrolan mereka.
Setelah cukup lama mereka mengobrol di sana, mereka akhirnya memutuskan untuk
pulang. Beni memasang tasnya, Teguh berdiri. Lalu mereka berdua berjalan keluar
dari warung itu dengan meninggalkan dua gelas yang sudah tak berisi.
Tok Tok Tok!
Suara pintu itu di ketuk. Dilihatnya dari lubang kecil yang
cekung itu, rupanya Beni. Teguh membuka pintu kamarnya.
“Ada apa Ben?” tanyanya.
“Boleh masuk gak nih?” Beni balik bertanya.
Teguh mengangguk, mempersilahkan temannya masuk. Beni
berlari, lalu kemudian merebahkan badannya di kasur Teguh yang empuk. Teguh
berjalan perlahan ke arahnya, “Kenapa Ben?” Tanyanya kembali.
“Oh ya tentang besok,” setengah badan Beni terbangun. “Jadi
gak?”
Teguh terlihat ragu menjawab. “Ma-maaf Ben, orang tuaku gak
ngizinin.”
“Trus kamu bagaimana?”
“Gimana ya? Aku sih pengen.”
“Kalau begitu pergi aja,”
“Maksudmu?”
“Kabur ajalah, besok aku tunggu di taman, kamu izin lah sama
orang tuamu buat pergi ke taman, bilang aja mau lari pagi.”
Teguh setengah menunduk, “Tapi kan itu durhaka namanya Ben,
takut kualat aku.”
“Ah, gak apa-apa. Sekali doang kok.” Sekarang Beni beranjak
dari tempat tidur. “Dah ya, aku pulang. Besok pagi-pagi aku tunggu kamu di
taman.” Punggungnya berlalu, menghilang di depan pintu meninggalkan Teguh
dengan penuh perasaan bimbang.
Keesokan paginya, Beni sudah berada di taman. Menunggu Teguh
untuk datang. Namun, setelah cukup lama tak jua dilihatnya batang hidung dari
sahabatnya itu. sampai akhirnya matanya menangkap sosok Teguh membelah
keramaian, berjalan ke arahnya.
“Nah akhirnya datang juga.” Ucap Beni sambil menyalakan mesin
motor bebeknya. “Ayo, langsung naik.”
Teguh mengangguk, lalu mengambil tempat duduk tepat di
belakang Beni. Beni langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. meyusuri jalan
perkotaan yang cukup padat. Mengarahkan motornya keluar dari kota itu. sampai
akhirnya tulisan “Selamat jalan” itu terbaca olehnya dan Teguh.
“Kita kemana ya?” Tanya Teguh.
“Ah, aku punya tempat liburan bagus di dekat rumah nenekku,
di dekat pantai.” Jawab Beni dari balik helm hitam yang sedang ia gunakan.
Teguh kemudian terdiam kembali.
Sudah kali kedua mereka melewati plang kuning bertuliskan
“Hati-hati. Keluar masuk proyek kendaraan”. Melihat plang itu Beni tak
bergeming, kecepatannya malah semakin bertambah. Sampai menyentuh angka delapan
puluh pada speedometer motornya. Lalu
tiba-tiba kendaraan kuning nan besar itu keluar, mengambil jalur Beni. Beni
terkesiap tak bisa berbuat apa-apa. Pasrah.
Brak!
***
“Aku dimana?” Beni bertanya. Di depannya berdiri kedua orang
tuanya dengan seorang pria yang mengenakan jas putih panjang. Wanita yang
dikenalnya sebagai ibu terlihat menangis. Dirinya ingin beranjak. Namun, sakit
di seluruh bagian tubuhnya itu tidak meperbolehkan dirinya untuk beranjak.
Sakit di mana-mana, perban di mana-mana.
Kedua orang tuanya menoleh, melihat anaknya yang telah sadar
kembali. Wanita itu masih menangis, sementara sang pria yang dikenalnya sebagai
ayah melangkah mendekatinya. “Kamu di rumah sakit, nak.” Ucapnya.
Dengan polosnya ia bertanya. “Kenapa?”
Ayahnya menatap bingung. Dia melihat ke arah dua orang lain
yang sedang berada di ruangan itu. wanita itu mengangguk. Ayahnya kemudian
mentap ke arahnya lagi. “Kamu tabrakan dengan Truk. Helm hitam itu
menyelamatkanmu.”
Mata Beni terbelalak mendengar penuturaa ayahnya. Dirinya
teringat akan sosok yang duduk di belakangnya ketika kejadian naas itu terjadi.
“Teguh mana?” tanyanya.
***
Hujan deras itu telah reda. Pemuda itu segera menghabiskan
teh panas miliknya, kemudian berdiri lalu beranjak pergi ke arah si kakek tua.
Tangannya menyodorkan lembaran uang berwarna merah keunguan. Tangan kakek tua
itu menerimanya.
“Terima kasih mang,” ucapnya. “Kembaliannya diambil saja,
saya pamit dulu.”
Baru saja ia berniat membalikkan punggungnya, namun tertahan
oleh sebuah rasa aneh yang mengarah kepada kakek tua itu.
“Oh ya, dan tentang temanku itu, mamang bisa menghadiahkannya
surat Al-Fatihah, agar ia bisa tenang di alam sana.” Ucapnya, kemudian berlalu
meninggalkan penampakan punggungnya yang semakin memudar lalu akhirnya
menghilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar