Total Tayangan Halaman

Selasa, 29 Desember 2015

Segelas teh panas

Pemuda dalam balutan kaos hitam itu berlari menembus hujan. Menatap ke sebuah warung kecil sebagai tujuannya. Dilihatnya pintu warung menganga lebar. Dengan sigap ia masuk ke dalamnya, dan mengambil tempat duduk di sebuah kursi panjang yang ketika diduduki olehnya terasa bergoyang lemah. Tidak banyak orang disana, hanya dia, pemilik warung, dan empat orang berkemeja putih yang terlihat sedang menikmati kopi.
Hujan semakin deras, bunyi atap seng berkarat itu pun semakin keras. Melantunkan lagu abstrak yang terdengar membawa kesunyian ke dalam setiap hati yang mendengarnya. Pemilik warung yang sudah berumur itu mendekatinya. Dari dekat, tampak jelas rupanya. Matanya yang sayu, bibirnya yang keriput, serta kulitnya yang berlipat-lipat. Kakek itu tersenyum padanya, “Kopi den?” begitu ucapnya.
“Teh saja mang,” jawab pemuda itu.
Kakek tua itu hanya mengangguk, lalu membalikkan tubuh kurusnya meninggalkan si pemuda yang kali ini terlihat melamun. Lamunannya mengarah kepada berjuta kenangan yang telah ia lalui di kota ini, sebelum ia pergi untuk menjejakkan kaki di tanah rantau yang ia cintai. Namun, bagaimanapun ia mencintai tanah rantaunya, tak bisa ia pungkiri bahwa tanah asalnyalah yang lebih banyak menyimpan kenangan. Mungkin karena itu ia lebih mencintai tanah rantaunya? karena tanah ini menyimpan begitu banyak kenangan untuknya. Kenangan yang tajam bak belati yang siap menusuknya kapan saja. Tidak, tentu dia tidak akan ambil pusing untuk menggali-gali kenangan itu kembali. Biarlah belati itu terkubur.
Kakek tua itu datang kembali, kali ini dengan segelas teh panas di tangannya.
“Silahkan den.” Ucapnya kakek tua itu menyuguhkan.
“Terima kasih mang.” Pemuda tersenyum.
“Den, temannya ndak diajak?” kakek tua itu bertanya.
Pemuda itu terkejut. “Ah, ingatan itu lagi.” Gumamnya dalam hati.
***
“Hei, kita mampir disana sebentar,” Ucap Beni menunjuk ke arah sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan. “Kita nongkrong di sana sebentar.”
Teguh mengangguk, mengiyakan perkataan temannya.
Mereka berdua masuk, mengambil tempat duduk. Beni melepaskan tasnya, meletakkannya di atas meja.
“Mang, es teh dua.”
Pemilik warung itu spontan menoleh ke arah sumber suara, “Oke den.” Ucapanya.
Sembari menunggu es teh itu datang, Beni membuka suara, mengajak Teguh berbincang. “Gimana? Kamu ikut kan?”
“Aku juga gak tahu Ben, kamu tahu kan nilai raportku jelek.”
“Ayolah, sesekali liburan gak apa-apa dong. Orang tuamu pasti ngerti.”
“Ya, aku harap sih begitu.”
Es teh itu akhirnya datang, bersiap menemani obrolan mereka. Setelah cukup lama mereka mengobrol di sana, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Beni memasang tasnya, Teguh berdiri. Lalu mereka berdua berjalan keluar dari warung itu dengan meninggalkan dua gelas yang sudah tak berisi.

Tok Tok Tok!
Suara pintu itu di ketuk. Dilihatnya dari lubang kecil yang cekung itu, rupanya Beni. Teguh membuka pintu kamarnya.
“Ada apa Ben?” tanyanya.
“Boleh masuk gak nih?” Beni balik bertanya.
Teguh mengangguk, mempersilahkan temannya masuk. Beni berlari, lalu kemudian merebahkan badannya di kasur Teguh yang empuk. Teguh berjalan perlahan ke arahnya, “Kenapa Ben?” Tanyanya kembali.
“Oh ya tentang besok,” setengah badan Beni terbangun. “Jadi gak?”
Teguh terlihat ragu menjawab. “Ma-maaf Ben, orang tuaku gak ngizinin.”
“Trus kamu bagaimana?”
“Gimana ya? Aku sih pengen.”
“Kalau begitu pergi aja,”
“Maksudmu?”
“Kabur ajalah, besok aku tunggu di taman, kamu izin lah sama orang tuamu buat pergi ke taman, bilang aja mau lari pagi.”
Teguh setengah menunduk, “Tapi kan itu durhaka namanya Ben, takut kualat aku.”
“Ah, gak apa-apa. Sekali doang kok.” Sekarang Beni beranjak dari tempat tidur. “Dah ya, aku pulang. Besok pagi-pagi aku tunggu kamu di taman.” Punggungnya berlalu, menghilang di depan pintu meninggalkan Teguh dengan penuh perasaan bimbang.

Keesokan paginya, Beni sudah berada di taman. Menunggu Teguh untuk datang. Namun, setelah cukup lama tak jua dilihatnya batang hidung dari sahabatnya itu. sampai akhirnya matanya menangkap sosok Teguh membelah keramaian, berjalan ke arahnya.
“Nah akhirnya datang juga.” Ucap Beni sambil menyalakan mesin motor bebeknya. “Ayo, langsung naik.”
Teguh mengangguk, lalu mengambil tempat duduk tepat di belakang Beni. Beni langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. meyusuri jalan perkotaan yang cukup padat. Mengarahkan motornya keluar dari kota itu. sampai akhirnya tulisan “Selamat jalan” itu terbaca olehnya dan Teguh.
“Kita kemana ya?” Tanya Teguh.
“Ah, aku punya tempat liburan bagus di dekat rumah nenekku, di dekat pantai.” Jawab Beni dari balik helm hitam yang sedang ia gunakan. Teguh kemudian terdiam kembali.
Sudah kali kedua mereka melewati plang kuning bertuliskan “Hati-hati. Keluar masuk proyek kendaraan”. Melihat plang itu Beni tak bergeming, kecepatannya malah semakin bertambah. Sampai menyentuh angka delapan puluh pada speedometer motornya. Lalu tiba-tiba kendaraan kuning nan besar itu keluar, mengambil jalur Beni. Beni terkesiap tak bisa berbuat apa-apa. Pasrah.
Brak!
***
“Aku dimana?” Beni bertanya. Di depannya berdiri kedua orang tuanya dengan seorang pria yang mengenakan jas putih panjang. Wanita yang dikenalnya sebagai ibu terlihat menangis. Dirinya ingin beranjak. Namun, sakit di seluruh bagian tubuhnya itu tidak meperbolehkan dirinya untuk beranjak. Sakit di mana-mana, perban di mana-mana.
Kedua orang tuanya menoleh, melihat anaknya yang telah sadar kembali. Wanita itu masih menangis, sementara sang pria yang dikenalnya sebagai ayah melangkah mendekatinya. “Kamu di rumah sakit, nak.” Ucapnya.
Dengan polosnya ia bertanya. “Kenapa?”
Ayahnya menatap bingung. Dia melihat ke arah dua orang lain yang sedang berada di ruangan itu. wanita itu mengangguk. Ayahnya kemudian mentap ke arahnya lagi. “Kamu tabrakan dengan Truk. Helm hitam itu menyelamatkanmu.”
Mata Beni terbelalak mendengar penuturaa ayahnya. Dirinya teringat akan sosok yang duduk di belakangnya ketika kejadian naas itu terjadi.
“Teguh mana?” tanyanya.
***
Hujan deras itu telah reda. Pemuda itu segera menghabiskan teh panas miliknya, kemudian berdiri lalu beranjak pergi ke arah si kakek tua. Tangannya menyodorkan lembaran uang berwarna merah keunguan. Tangan kakek tua itu menerimanya.
“Terima kasih mang,” ucapnya. “Kembaliannya diambil saja, saya pamit dulu.”
Baru saja ia berniat membalikkan punggungnya, namun tertahan oleh sebuah rasa aneh yang mengarah kepada kakek tua itu.

“Oh ya, dan tentang temanku itu, mamang bisa menghadiahkannya surat Al-Fatihah, agar ia bisa tenang di alam sana.” Ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan penampakan punggungnya yang semakin memudar lalu akhirnya menghilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar