Kembali aku memandangi
layar ponselku. Kubaca lagi pesan singkat yang ia kirimkan padaku siang tadi.
Sembari melihat jam dinding, aku berpikir sejenak. Akankah aku langkahkan kaki
ini ke tempat yang ia pinta? Lagi. Kubaca pesan singkat itu.
“Sehabis
maghrib ke taman ya?
Aku
mau bicara sesuatu.” Begitu tulisnya.
Sebagian diriku menolak
untuk pergi, sebagian lagi memaksa untuk pergi. Entah mana yang harus aku
patuhi. Seharusnya aku sudah menjauhi dia sedari dulu, mengingat sekarang dia
sudah ada yang punya. Hatiku mengalah kepada perasaan yang memaksaku untuk
pergi. Alhasil tanpa diperintah kaki ini berjalan menuju taman.
Disana dia sudah
menunggu. Melihat ke arahku. Tersenyum dia kepadaku. Tanganku melambai –
lambai, seringai senyumku menjajarkan gigi – gigi yang sedang berbaris tegap
kearahnya. Kenapa aku malah bersikap ramah kepadanya? Aku mengerti. Aku bodoh.
Terlalu bodoh untuk mengabaikan wajah mungil dengan senyum menawan miliknya.
“Dia sudah membuatmu kecewa” kataku kepada isi kepalaku yang kecil ini. Namun
apa daya, kadang perasaan mampu mengalahkan logika.
Aku berjalan kearahnya.
Dia menyapaku.
“Ari, kok telat sih?
Biasanya kan kamu yang lebih dulu datang.” Dia masih tersenyum kepadaku. -Aku
telat karena berpikir ribuan kali terlebih dahulu untuk menemuimu saat ini. Dan
akhirnya aku datang. Mengorbankan logika. Mungkin juga perasaan-.
“Iya, tadi di
perempatan ada yang rame – rame, gak tau apaan.” Jawabku berbohong. -Aku tahu,
jika aku jujur kau akan sangat marah padaku. Walaupun seharusnya aku yang
memarahimu. Menggerutu padamu karena telah meninggalkanku sendirian dalam sepi.
Sekarang kau malah memintaku datang kepadamu-.
Aku duduk di dekatnya.
Mulai membuka percakapan dengan sedikit basa – basi “Ada apa Nis?”. Mukaku
memerah menanyakan hal itu padanya. Aku tidak percaya, aku berbicara dengannya
lagi.
“Boleh gak aku curhat
ke kamu?” Tanyanya padaku.
“Apa sih yang gak buat
kamu Anissa?” Bah, munafik sekali aku ini.
“Beneran nih? Soalnya
aku mau bicara tentang Ricko” ujarnya. –Ricko? Pacarmu itu? lelaki yang kau
pilih ketimbang aku? Menurutmu kenapa aku ingin mendengar tentang dia?-.
“Iya ga papa kok”
jawabku munafik (lagi).
Dia mulai berbicara
panjang lebar tentang Ricko miliknya. Katanya Ricko sudah tidak seprti dulu
lagi. Katanya Ricko sudah tidak sayang lagi kepadanya. “Lalu kenapa memilih
bertahan dengannya?” tanyaku.
“Karena aku sayang
Rikco, Ri.” jawabnya. Diriku tergtegun sejenak. Aku menyesal. Aku menyesal
datang ke tempat ini. Kalau hanya untuk mendengarnya berkata betapa cintanya
dia kepada kekasih hatinya itu. Untunglah hati ini masih segar belum membusuk.
Aku bisa saja meninggalkannya ketika ia melempar perkataan itu padaku. Pergi
menjauh lalu mengabaikannya. Tapi hati ini tidak bisa berbuat begitu. Sekali
lagi, logika dikalahkan oleh perasaan.
Aku tidak tahu mau
berkata apa. “Trus?” akhirnya aku bertanya.
“Aku mau minta
pendapatmu, sebaiknya aku lanjut atau stop sama dia” jawabnya. Aih, melompat
gembira hatiku. Ingin aku katakan “Ya putusin aja lah, buat apa jalan sama orang
yang gak sayang sama kamu, bener gak?”. Namun, dalam sekejap gembira itu
hilang. Aku tertegun kembali. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Akankah dia
mencintaiku jika aku berbuat begitu? Membuatnya berpisah dengan orang yang dia
sayangi. Tak tega aku melakukannya. Aku tertunduk lalu tersadar. Aku mengerti
bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.
“Kalau menurutmu
bagaimana?” tanyaku. Aku ingin mendengar apa yang dia akan katakan selanjutnya.
Besar harapanku mendengar “ Aku mau putus sama dia Ri. Aku mau sama kamu” dari
mulut manisnya. Menjijikkan, kenapa sekarang aku malah berfikir seperti itu?
buang jauh – jauh fikiran itu.
“Nah karena itu aku
memanggilmu kesini Ri, aku ingin mendengar pendapat teman terdekatku” jawabnya.
Aku terkejut. Mataku terbelalak. Aku memandangnya. Aku mengerti. Selama ini dia
menganggapku sebagai teman. –Hah? Teman? Kamu harus tahu bahwa aku menyimpan
rasa padamu. Dan setelah apa yang kita lalui kau menganggapku teman. Benar –
benar gadis yang hebat-.
Aku sudah tidak tahan,
aku ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Apa ini yang terjadi? Tubuhku sama
sekali tak mau bergerak. Aku memaksakan diri. Inginku langkahkan kaki ini.
Namun, hati ini menghianatiku. Begitu juga dengan kaki ini. Mereka memilih bertahan
walau sakit. Aku tidak mengerti. Kenapa? Kenapa aku harus diam disini? Hati dan
kaki nan mungil itu tak menjawab. Aku kalah. Kali ini tak hanya kalah oleh
hati, namun juga kaki.
“Menurutku, kalau kau
sayang sama dia yang tetap jalanin aja” Sekarang bibir ini mengatakan sesuatu
yang tak ingin aku katakan. Atau mungkin memang ini yang ingin aku katakan(?).
Ah aku tidak mengerti.
“Tapi mau sampai
kapan?” tanyanya.
“Sampai rasa sayang itu
hilang dan tergantinkan oleh rasa yang baru” Jawabku spontan. Dia melihatku
sejenak. Memiringkan kepalanya. Aku membalasnya dengan tatapan bingung.
“Maksudmu?” ucapnya.
Apa yang harus aku katakan? Perkataanku barusan keluar dengan spontan. Aku
salahkan hati. Namun, ia munujuk logika untuk menjawab. Kutanya logika. Dia
diam seribu bahasa.
“Eh..maksudku, intinya
jalanin aja.” Hufft akhirnya pertanyaan itu terjawab. Aku lolos. Hati dan
logika tersenyum sumringah kepadaku. Aku lihat dia menunduk. Beberapa detik
kemudian dia menatapku. Air mata membasahi pipinya. “Aku sudah gak tahan sama
dia Ri, sebenarnya aku tuh suka sama kamu”. Ah fikiran itu lagi. Sudah kubilang
untuk pergi jauh – jauh. Menjijikkkan. Kali ini aku yang tertunduk. Dia menepuk
bahuku. Lalu berkata “Terima kasih ya Ri. Kamu sudah mau dengerin aku curhat”.
Katanya.
“Sama – sama” jawabku
sambil tersenyum. Itu adalah senyum paling palsu yang pernah menghiasi bibirku.
Aku tidak ingin dia berterima kasih kepadaku dalam keadaan seperti ini. Andai
saja dia tahu betapa besarnya perasaanku padanya. Aku tidak menyalahkan siapa –
siapa karena aku tidak bisa memilkinya. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri.
Diriku yang terlalu takut mengungkapkan. Sekarang baru terasa pedihnya. Ketika
sang bunga dipetik tetangga yang entah darimana datangnya. Aku yang bagai sang
kupu – kupu hanya bisa terdiam membisu. Bertanya kepada hati dan menangis
bersamanya.
Sejurus dengan hatiku,
langit pun mulai menangis.
“Eh hujan nih, pulang
yuk, aku anterin” ujarku.
“Eh iya iya, ayo”
jawabnya.
Sebelum kami tiba di
rumahnya, hujan menangkap kami berdua. Kami berdiam di sebuah bengkel yang
sudah tutup sejak sore tadi. Aku melihatnya menggigil kedingin. Kehujanan. Aku
melirik jaketku. Hati ini menyuruh untuk memberikan jaket ini untuknya. Aku katakan
tidak. Dia telah menyakitiku. Lagi – lagi perasaan itu datang. Tanganku
bergerak, membuka jaket ini. Kukenakan jaket itu padanya. Dia terkejut. Menatap
ke arahku lalu tersenyum dan berkata “Terima kasih ya Ri”
“Sama – sama” jawabku
tersenyum. Kami mengobrol. Menunggu hujan reda.
Aku menatap dirinya
yang sedang asyik bercerita. Aku hanya tidak mengerti dengan si Ricko itu.
bodohnya dia mengabaikan gadis secantik Anisa. Bagiku, pria paling beruntung
adalah pria yang saling memilki dengan Anissa. Tapi, sayangnya pria itu adalah
dia. Bukan Aku.
wkwk friendzone:"v Sedih sekali:v bagus cerpennya.
BalasHapus