Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 Desember 2015

Dia,Bukan aku.

Kembali aku memandangi layar ponselku. Kubaca lagi pesan singkat yang ia kirimkan padaku siang tadi. Sembari melihat jam dinding, aku berpikir sejenak. Akankah aku langkahkan kaki ini ke tempat yang ia pinta? Lagi. Kubaca pesan singkat itu.
“Sehabis maghrib ke taman ya?
Aku mau bicara sesuatu.” Begitu tulisnya.
Sebagian diriku menolak untuk pergi, sebagian lagi memaksa untuk pergi. Entah mana yang harus aku patuhi. Seharusnya aku sudah menjauhi dia sedari dulu, mengingat sekarang dia sudah ada yang punya. Hatiku mengalah kepada perasaan yang memaksaku untuk pergi. Alhasil tanpa diperintah kaki ini berjalan menuju taman.
Disana dia sudah menunggu. Melihat ke arahku. Tersenyum dia kepadaku. Tanganku melambai – lambai, seringai senyumku menjajarkan gigi – gigi yang sedang berbaris tegap kearahnya. Kenapa aku malah bersikap ramah kepadanya? Aku mengerti. Aku bodoh. Terlalu bodoh untuk mengabaikan wajah mungil dengan senyum menawan miliknya. “Dia sudah membuatmu kecewa” kataku kepada isi kepalaku yang kecil ini. Namun apa daya, kadang perasaan mampu mengalahkan logika.
Aku berjalan kearahnya. Dia menyapaku.
“Ari, kok telat sih? Biasanya kan kamu yang lebih dulu datang.” Dia masih tersenyum kepadaku. -Aku telat karena berpikir ribuan kali terlebih dahulu untuk menemuimu saat ini. Dan akhirnya aku datang. Mengorbankan logika. Mungkin juga perasaan-.
“Iya, tadi di perempatan ada yang rame – rame, gak tau apaan.” Jawabku berbohong. -Aku tahu, jika aku jujur kau akan sangat marah padaku. Walaupun seharusnya aku yang memarahimu. Menggerutu padamu karena telah meninggalkanku sendirian dalam sepi. Sekarang kau malah memintaku datang kepadamu-.
Aku duduk di dekatnya. Mulai membuka percakapan dengan sedikit basa – basi “Ada apa Nis?”. Mukaku memerah menanyakan hal itu padanya. Aku tidak percaya, aku berbicara dengannya lagi.
“Boleh gak aku curhat ke kamu?” Tanyanya padaku.
“Apa sih yang gak buat kamu Anissa?” Bah, munafik sekali aku ini.
“Beneran nih? Soalnya aku mau bicara tentang Ricko” ujarnya. –Ricko? Pacarmu itu? lelaki yang kau pilih ketimbang aku? Menurutmu kenapa aku ingin mendengar tentang dia?-.
“Iya ga papa kok” jawabku munafik (lagi).
Dia mulai berbicara panjang lebar tentang Ricko miliknya. Katanya Ricko sudah tidak seprti dulu lagi. Katanya Ricko sudah tidak sayang lagi kepadanya. “Lalu kenapa memilih bertahan dengannya?” tanyaku.
“Karena aku sayang Rikco, Ri.” jawabnya. Diriku tergtegun sejenak. Aku menyesal. Aku menyesal datang ke tempat ini. Kalau hanya untuk mendengarnya berkata betapa cintanya dia kepada kekasih hatinya itu. Untunglah hati ini masih segar belum membusuk. Aku bisa saja meninggalkannya ketika ia melempar perkataan itu padaku. Pergi menjauh lalu mengabaikannya. Tapi hati ini tidak bisa berbuat begitu. Sekali lagi, logika dikalahkan oleh perasaan.
Aku tidak tahu mau berkata apa. “Trus?” akhirnya aku bertanya.
“Aku mau minta pendapatmu, sebaiknya aku lanjut atau stop sama dia” jawabnya. Aih, melompat gembira hatiku. Ingin aku katakan “Ya putusin aja lah, buat apa jalan sama orang yang gak sayang sama kamu, bener gak?”. Namun, dalam sekejap gembira itu hilang. Aku tertegun kembali. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Akankah dia mencintaiku jika aku berbuat begitu? Membuatnya berpisah dengan orang yang dia sayangi. Tak tega aku melakukannya. Aku tertunduk lalu tersadar. Aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.
“Kalau menurutmu bagaimana?” tanyaku. Aku ingin mendengar apa yang dia akan katakan selanjutnya. Besar harapanku mendengar “ Aku mau putus sama dia Ri. Aku mau sama kamu” dari mulut manisnya. Menjijikkan, kenapa sekarang aku malah berfikir seperti itu? buang jauh – jauh fikiran itu.
“Nah karena itu aku memanggilmu kesini Ri, aku ingin mendengar pendapat teman terdekatku” jawabnya. Aku terkejut. Mataku terbelalak. Aku memandangnya. Aku mengerti. Selama ini dia menganggapku sebagai teman. –Hah? Teman? Kamu harus tahu bahwa aku menyimpan rasa padamu. Dan setelah apa yang kita lalui kau menganggapku teman. Benar – benar gadis yang hebat-.
Aku sudah tidak tahan, aku ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Apa ini yang terjadi? Tubuhku sama sekali tak mau bergerak. Aku memaksakan diri. Inginku langkahkan kaki ini. Namun, hati ini menghianatiku. Begitu juga dengan kaki ini. Mereka memilih bertahan walau sakit. Aku tidak mengerti. Kenapa? Kenapa aku harus diam disini? Hati dan kaki nan mungil itu tak menjawab. Aku kalah. Kali ini tak hanya kalah oleh hati, namun juga kaki.
“Menurutku, kalau kau sayang sama dia yang tetap jalanin aja” Sekarang bibir ini mengatakan sesuatu yang tak ingin aku katakan. Atau mungkin memang ini yang ingin aku katakan(?). Ah aku tidak mengerti.
“Tapi mau sampai kapan?” tanyanya.
“Sampai rasa sayang itu hilang dan tergantinkan oleh rasa yang baru” Jawabku spontan. Dia melihatku sejenak. Memiringkan kepalanya. Aku membalasnya dengan tatapan bingung.
“Maksudmu?” ucapnya. Apa yang harus aku katakan? Perkataanku barusan keluar dengan spontan. Aku salahkan hati. Namun, ia munujuk logika untuk menjawab. Kutanya logika. Dia diam seribu bahasa.
“Eh..maksudku, intinya jalanin aja.” Hufft akhirnya pertanyaan itu terjawab. Aku lolos. Hati dan logika tersenyum sumringah kepadaku. Aku lihat dia menunduk. Beberapa detik kemudian dia menatapku. Air mata membasahi pipinya. “Aku sudah gak tahan sama dia Ri, sebenarnya aku tuh suka sama kamu”. Ah fikiran itu lagi. Sudah kubilang untuk pergi jauh – jauh. Menjijikkkan. Kali ini aku yang tertunduk. Dia menepuk bahuku. Lalu berkata “Terima kasih ya Ri. Kamu sudah mau dengerin aku curhat”. Katanya.
“Sama – sama” jawabku sambil tersenyum. Itu adalah senyum paling palsu yang pernah menghiasi bibirku. Aku tidak ingin dia berterima kasih kepadaku dalam keadaan seperti ini. Andai saja dia tahu betapa besarnya perasaanku padanya. Aku tidak menyalahkan siapa – siapa karena aku tidak bisa memilkinya. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri. Diriku yang terlalu takut mengungkapkan. Sekarang baru terasa pedihnya. Ketika sang bunga dipetik tetangga yang entah darimana datangnya. Aku yang bagai sang kupu – kupu hanya bisa terdiam membisu. Bertanya kepada hati dan menangis bersamanya.
Sejurus dengan hatiku, langit pun mulai menangis.
“Eh hujan nih, pulang yuk, aku anterin” ujarku.
“Eh iya iya, ayo” jawabnya.
Sebelum kami tiba di rumahnya, hujan menangkap kami berdua. Kami berdiam di sebuah bengkel yang sudah tutup sejak sore tadi. Aku melihatnya menggigil kedingin. Kehujanan. Aku melirik jaketku. Hati ini menyuruh untuk memberikan jaket ini untuknya. Aku katakan tidak. Dia telah menyakitiku. Lagi – lagi perasaan itu datang. Tanganku bergerak, membuka jaket ini. Kukenakan jaket itu padanya. Dia terkejut. Menatap ke arahku lalu tersenyum dan berkata “Terima kasih ya Ri”
“Sama – sama” jawabku tersenyum. Kami mengobrol. Menunggu hujan reda.

Aku menatap dirinya yang sedang asyik bercerita. Aku hanya tidak mengerti dengan si Ricko itu. bodohnya dia mengabaikan gadis secantik Anisa. Bagiku, pria paling beruntung adalah pria yang saling memilki dengan Anissa. Tapi, sayangnya pria itu adalah dia. Bukan Aku.

1 komentar: