Total Tayangan Halaman

Jumat, 04 Desember 2015

Matahari Senja

Laut, matahari senja, pantai. Semua itu berada di kepalanya. Teringat apa yang dilakukan selanjutnya. Selalu berpikir untuk tidak kehilangan waktu. Prinsip hidupnya yang sederhana, yang selalu berkata “tidak ada waktu untuk menghabiskan hidup dengan pertemanan ataupun percintaan. Hanya ada waktu untuk memikirkan masa depan”.
Sanjaya Prawira, siswa kelas sebelas SMAN 1 MATARAM. Seorang anak remaja yang selalu terobsesi dengan masa depan. Tubuh kecil, tinggi semampai dengan rambut keriting yang membungkus kepala mungilnya dimana selalu terdengar ucapan “jauhi orang – orang tak berguna, jangan punya teman” yang selalu berkeliling terngiang – ngiang disana.
Hari itu hari pertama dia masuk sekolah setelah menjalani setengah semesternya di kelas sebelas. Seperti hari – hari biasa, teman – temannya selalu menatap dirinya dengan tatapan  sinis, seolah – olah ingin berkata  “ah, si kutu buku sialan ini. Dia pasti senang, Karena dia tahu dia akan mendapat nilai yang bagus”. Hubungan dengan teman – teman kelasnya memang tak akur. Mereka menganggap Sanjaya adalah orang yang apatis. Dilihat dari faktanya, memang begitulah dia.
Pernah suatu hari salah seorang temannya bertanya tentang kenapa sanjaya selalu menyendiri dan tak punya teman. Jawabannya sederhana, sesederhana dirinya. “Aku tidak punya waktu untuk itu! Mengurus pertemanan hanya akan mencegahku lebih dekat dari apa yang aku cita – citakan”. Menurut Sanjaya, memiliki teman hanya akan memperlambat dirinya mencapai target yang dia inginkan. Kadang seseorang tidak mendapat pekerjaan yang dia inignkan, menurutnya hal ini terjadi karena kebanyakan orang sibuk meluangkan waktu mereka pada sesuatu yang tidak berguna, salah satunya pada sesuatu yang disebut “pertemanan”. Apatis memang iya, begitulah dirinya.
Pandangan matanya waktu itu tertuju pada seorang gadis yang bagi dirinya sangat tidak familiar. “murid barukah?” Tanya dirinya dalam hati.
“yah setidaknya semoga dia tidak berusaha mendekatiku”
Begitupun dengan murid – murid lainnya. Setiap mereka memasuki kelas tersebut, pandangan mata mereka selalu tertuju pada gadis mungil itu.
Pelajaran pertama hari itu dimulai dengan perkenalan murid baru – si gadis kecil –.
“Hai semuannya. Namaku Clara Sulistya. Usiaku 16 tahun. Aku pindahan dari SMAN 1 Praya”. Setelah ucapan itu terlempar, pertanyaan – pertanyaan datang menyerbu dirinya.
Sekarang sanjaya tahu nama gadis ini. Seorang gadis bernama Clara Sulistya. 16 tahun. Siswi pindahan dengan tubuh ideal dan tinggi sekitar 160 cm. Berbeda dengan dirinya, semua murid di kelas itu terlihat begitu hangat menyambut gadis kecil ini.
Seperti yang ditakutkan Sanjaya, tentu saja gadis itu berusaha membuat rubuh pertahanan perinsipnya yang selama ini dia anut. Tembok besar yang selama ini menghalangi banyak orang untuk memasuki kehidupannya, kini didepannya telah berdiri tegak seorang wanita dengan mulut terbuka lebar sambil berteriak pada sang empunya tembok “Akan kuhancurkan tembok ini”. 16 tahun tanpa hubungan special dengan orang lain – selain orang tuanya –. Hal ini tentu tidak akan membuat dirinya mudah goyah dari prinsipnya.
***
Jam istirahat pun tiba. Seperti biasa, dirinya pergi keatap sekolah. Duduk dan memakan makan siangnya. Apa yang dia lakukan disana? Menulis. Ingat prinsipnya? Ya, cita – cita Sanjaya adalah menjadi seorang penulis. Satu hal lagi yang perlu kalian tahu. Dia sangat tidak ingin diganggu (benci) ketika dalam berada dalam imajinasinya.
Baru 2 menit dia berada di sana, tubuh mungil Clara keluar dari pintu atap sekolah dengan sapaan khasnya. Tentu saja Clara bukan orang yang mudah menyerah, dan tentu saja hal itu membuat Sanjaya cukup kerepotan.
“Ha-Hai, kalau tidak salah kamu Sanjaya kan? Sedang apa kau di sini. Di sini cukup sepi. Apa itu tidak mengganggumu?” Tanya Clara.
“Satu – satunya hal yang mengganggu diriku di sini adalah kehadiranmu” jawab Sanjaya. “pergilah dan jangan pernah kembali”.
“Wow dingin sekali. Apa kau mengucapkan hal itu setiap kali ada seseorang yang mendatangimu?”.
“Ya, kecuali pada orang tuaku. Dengar, kau bukan yang pertama, jadi kumohon pergilah”.
“Tempat ini menarik” ucap Clara.
“Apa kau tidak dengar? Jika kemampuan bahasamu kurang, semoga dengan perkataanku ini kau dapat mengerti. Jauhi diriku, aku ingin kau pergi”
“Aye-ye kapten. Kau sungguh serperti kapten janggut merah, hanya saja kau tidak punya janggut di wajahmu haha” ucap Clara bercanda. Begitulah kiranya yang selalu terjadi setiap hari ketika Sanjaya berada di tempat meditasinya (atap gedung sekolah).
Clara adalah orang yang cukup gigih, dan itu cukup membuat Sanjaya khawatir. Baru kali ini dia merasa meragukan prinsipnya. “Gadis ini menyebalkan, atau aku yang salah dalam menanggapinya?” Tanyanya dalam hati. Ketika Clara selalu datang padanya ketertarikannya akan gadis ini muncul sedikit demi sedikit. Terus bertumbuh seperti sebuah tanaman.
Sampai suatu hari. Di atap sekolah.
“Kau tidak bosan diacuhkan olehku?” Tanya Sanjaya kepada Clara.
“Tentu tidak, memangnya kau pamanku? Ngomong – ngomong pamanku itu membosankan” ucap Clara.
“Pfft…” Sanjaya tersenyum kecil.
“Apa itu senyuman? Kau tersenyum. Di sana Tepat di bibirmu, kau tersennyum.” Kata Clara.
“Tidak, tidak. Aku hanya tersedak, memang begitu ketika aku tersedak”
Aku tidak ingin mengatakannya pada kalian, tapi sebenarnya Sanjaya tersenyum saat itu. Senyum paling tulus yang pernah ada. senyum paling tulus yang pernah ia keluarkan. Senyum pertamanya kepada orang lain (selain orang tuanya). Pertanda dari tembok pertahanannya yang runtuh perlahan – lahan mulai terlihat. Ketertarikannya pada Clara semakin hari semakin bertambah dan semakin tak terbendung. Prinsip lama yang dia anut kini semakin buram. Dia bahkan sudah tak terlalu peduli dengan prinsipnya yang dahulu. “Clara berhasil, clara berhasil membuat tembokku runtuh” Ucap sanjaya dalam hati sambil memandang wajah lugu nan polos Clara yang sedang tersenyum gembira melihat dirinya tersenyum. Kini wanita yang berteriak untuk menghancurkan tembok tersebut tengah berdiri dan bertatap muka dengan sang empunya tembok, dipisahkan oleh sebuah tembok yang sekarang telah setinggi setengah dirinya.
***
Karena setiap hari bertemu, Clara dan Sanjaya sudah mulai saling mengenal. Clara tahu bahwa Sanjaya lahir di kota Mataram pada tanggal 19 Januari 1999. Begitu juga sanjaya, ia tahu bahwa Clara lahir di kota Praya pada tanggal 24 November 1998 . Keduanya bahkan sudah saling bertukar alamat facebook dan e-mail. Sanjaya yang semula merupakan orang paling malas segalaksi dalam bermain facebook, kini menjadi orang terajin seantero Mataram. Satu – satunya alasan dia bermain facebook adalah untuk menunggu pemberitahuan komentar balasan dari Clara. Suara “ping” dari telepon genggamnya mungkin adalah suara terindah yang dia dengar saat ini. Mengalahkan suara “Jaya ayo turun makanannya sudah siap nih” dari ibunya. Begitulah setiap harinya, tidak puas bercengkrama di atas atap sekolah, dilanjutkan dengan chatinggan di media social.
Lalu apa sebenarnya yang dirasakan Sanjaya saat ini? Perasaan sinis yang berubah menjadi tertarik, kini telah berevolusi kembali menjadi perasaan yang disebut – sebut para pujangga sebagai “Cinta”. Hanya keberanianlah yang ditunggu Sanjaya kali ini. Bagai hilang alamat, perasaan berani tak kunjung jua datang kepadanya. Perlahan – lahan sanjaya mengumpulkannya, berharap suatu hari nanti dia bisa mengatakan perasaanya pada Clara.
19 November 2015, 5 hari lagi ulang tahun Clara. Entah tersambar jin apa dia selepas malam tadi sampai – sampai dia bergumam “ah 5 hari lagi, semoga itu adalah waktu yang tepat”. ini adalah pengalaman pertamanya menyatakan perasaan kepada seorang wanita. Dia gugup. Dia canggung. Takut akan gagal, takut akan ditolak. Tapi baginya selalu ada yang namanya pertama kali dalam seumur hidup. Pertama kali menyatakan cinta, pertama kali di terima dan mungkin saja pertama kali ditolak.
Lalu di atap sekolah (lagi).
“Ehm ulang tahunmu kan 5 hari lagi nih, mau kado apa?” Tanya Sanjaya malu – malu.
“Ahaha, apa saja asal jangan bunga kamboja.” Jawab Clara “Aku benci getah bunga kamboja”.
“Hmmm kalau aku tidak memberimu kado apapun bagaimana?”.
“Dengan kau datang ke pesta ulang tahunku saja itu sudah merupakan kado yang istimewa untukku” .
“baiklah, aku akan datang”.
“Aku tunggu ya, awas lho kalo tidak datang haha” kata Clara.
Bermalam – malam Sanjaya begadang hanya untuk memikirkan kado yang pas untuk Clara –plus memikirkan kata – kata yang pas pada hari eksekusi nantinya.
Akhirnya hari itu tiba. Apa yang paling ditunggu Sanjaya hari itu adalah bunyi lonceng jam yang menandakan pukul empat sore. Pukul empat sore rumah Clara sudah ramai dikunjungi sanak saudara dan teman – temannya. Senyum dan tawa dari Clara lepas begitu saja membagikan kebahagiaan kepada semua orang yang berada di tempat itu. Tak terkecuali Sanjaya. Dengan perasaan deg-degan yang super – duper luar biasa dia melangkah menuju Clara.
“He-Hei Clara” panggil Sanjaya.
Tiba – tiba semua orang menjadi riuh (khususnya teman – teman Clara). Dalam benaknya Sanjaya bertanya “Apa yang sedang terjadi?”. Jaraknya yang cukup jauh dari Clara membuat dirinya tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Melangkahlah dia menuju Clara dengan penuh rasa ingin tahu. Satu persatu orang disingkirkannya. Sampai pada akhirnya sampailah dia di tempat di mana semuanya terlihat jelas. Remuklah dia. Apa yang terjadi?
“Wuihhihihi Clara ditembak sama Rudi, aku harap Clara menerimanya. Mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok”. Itulah setidaknya kata – kata yang mewakili apa yang sebenarnya terjadi. Seorang pria, tinggi, bertubuh ideal, hobi bermain basket, wajah tampan dan keluarga mapan. Dengan segala yang dia miliki, siapa yang tak kenal Rudi Hartono? Usut punya usut, Rudi juga sebenarnya punya rasa kepada Clara. Sama seperti Sanjaya, Rudi juga punya niatan untuk mengungkapkan perasaannya pada Clara di acara ulang tahunnya.
Semua orang semakin riuh meneriaki dua sejoli yang sedang bertatap muka. Clara yang tersenyum simpul dengan Rudi yang terduduk tegap. Sebagian dari mereka berteriak “Terima..Terimaa” dan sebagiannya lagi berteriak “Cieee jadian…jadian..”. Sanjaya yang hanya seorang anak sederhana dengan impian besar hanya bisa tertunduk lalu meremas kado yang telah ia siapkan sedari 5 hari yang lalu. Dibuanglah kado itu olehnya.Kado berupa puisi yang masih terjaga kerahasiaannya. Kalang kabutlah dirinya. Perasaannya bercampur aduk. Tapi mau dikata apa? mau marah? mau dongkol? mau benci? Dia sadar bahwa sekarang seorang wanita yang telah meruntuhkan temboknya kini telah pergi dengan seorang pangeran berkuda putih ke sebuah kerajaan nan makmur. Sementara itu sang empunya tembok sibuk  membangun kembali temboknya. Jika dulu dia membangun temboknya dengan semangat dan harapan, kini dia membangun temboknya dengan sakit hati dan keputusasaan. Sekarang kalian tahu kenapa Sanjaya tidak ingin berteman. Alasan – alasan omong kosong tentang cita – cita itu hanyalah kedok belaka. Alasan yang sebenarnya adalah hal yang sedang terjadi padanya saat ini. Dia takut. Dia takut dikecewakan. Sesederhana itu. Sesederhana dirinya.
Dia pulang dengan hati yang tercabik – cabik. Wanita yang ia sukai sekarang sudah milik orang lain. Jika saja Sanjaya seperti remaja  - remaja yang lain. Mungkin dia sudah pulang dengan berlinang air mata. Tetapi tidak dengan dirinya. Dia pulang membawa pelajaran. Pelajaran berharga tentang kepercayaan. Pelajaran berharga tentang arti dari kekecewaan.
Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Clara? Apa benar dia menerima Rudi?
Sementara Sanjaya di jalan pulang. Riuh di pesta ulang tahun Clara berubah menjadi keheningan. Menunggu jawaban sang putri.
“Jadi?” Tanya rudi dengan harap – harap cemas.
“Ma-maafkan aku Rudi. Kau memang cowok yang hebat, tapi seseorang telah mengisi hatiku. Seseorang telah mengisinya dengan sinar Matahari senja yang indah. Sekali lagi maafkan aku. Hanya saja aku tidak mungkin membiarkan Matahari senja ini berubah menjadi gelapnya malam” jawab Clara
***
Tembok itu sudah lebih kuat, karena dibangun dari sakit pahitnya pengalaman. Bagaimana dengan Clara?
Hari itu diatap sekolah setelah satu bulan lebih mereka tidak bicara. Clara memberanikan diri untuk menghampiri Sanjaya.
“Anuu Jaya.. sebenarnya ada apa sih? Akhir – akhir ini kita tidak pernah bicara lagi” Tanya Clara.
“Tidak ada. aku hanya mencoba menyendiri lagi” jawab Sanjaya.
“Hei kau tidak perlu menyendiri, kan ada aku disini”
“….” Sanjaya terdiam membisu
“Hufft aduh bagaimana ya?”
Untuk sekedar informasi, hari itu adalah hari ulang tahun Sanjaya.
“Kamu marah sama aku? Seharusnya aku yang marah. Soalnya kamu tidak datang di acara ulang tahunku” kata Clara “Sekarang aku datang di hari ulang tahunmu lho, walaupun tidak seramai ulang tahunku”.
“terus?” Tanya Sanjaya.
“Kalau boleh aku ingin membacakan sesuatu untukmu, sebagai kado ulang tahunmu dariku”
“Terserahlah”
“Dengar baik – baik ya. Aku menghapalkan ini dengan susah payah lho
Rindang pohon berselimut daun
Berung penyendiri di atas sangkar
Melihat burung lain terbang menari
Irikah dia? Tidak
Apa gerangan yang ia tunggu?
Sentuhan lembut penuh kemesraan
Ajakan tangan menuju kebebasan
Irikah dia? Tidak
Ramai – ramai burung terbang
Tanpa sangkar tanpa kekang
Di atas awan dengan girang
Irikah dia? Tidak
Burung penyendiri tak sendiri
Disebelahnya berdiri kekasih hati.
Sanjaya terkejut.
“i-itu kan?” Tanya Sanjaya.
“Ya ini puisimu.” Jawab Clara.
“Ta-tapi bagaimana bisa?”
“Sejujurnya aku melihatmu hari itu. Sayangnya kau membuang kado terindahmu untukku. Aku menunggumu hari itu.”
“Ma-maafkan aku. Tapi bagaimana dengan Rudi” Sanjaya tertunduk menyesal.
“Rudi? Hahaha cowok yang kekanak – kanakan seperti dia sama sekali bukan tipeku” kata Clara.“Haaaah jadi karena ini hari ulang tahunmu, aku tidak akan memberikanmu satu kado saja, aku punya kado lain” ucap Clara. “Jadi ak..” ucapan Clara terhenti oleh senggahan dari Sanjaya.
“Hentikan, aku akan merubah kebiasaan kita sedikit. Jika biasanya yang berulang tahun yang diberikan kado, kali ini yang berulang tahun yang memberikan kado” Kata Sanjaya.
“Haha apa itu?”
Saat itulah rasa kecewa tergantikan. Diisi oleh sebuah keberanian. Jika kalian tidak percaya dengan hati manusia yang bisa menghilangkan rasa kecewa, kalian harus belajar lagi. Hati manusia tidak serumit itu. Kadang hati dan pikiran yang  sederhana sudah lebih dari cukup untuk memahami seperti apa sebenarnya manusia itu. Kalian tidak percaya? Sanjayalah buktinya.
“Maukah kau menjadi kekasih hati burung penyendiri ini? Menemaninya melihat burung yang terbang tanpa ada rasa iri sedikitpun?” Tanya Sanjaya.
“Tentu saja Matahari Senjaku” Jawab Clara.

3 komentar:

  1. Buat yg lain dong gan, yg lebih sosweeeeeeeet😂😂 hahaks

    BalasHapus
  2. Buat yg lain dong gan, yg lebih sosweeeeeeeet😂😂 hahaks

    BalasHapus
  3. Ngapain pake kata "Gan" (padahal temen sekelas)? -___- kesannya kek abang - abang kaskus. setidaknya panggil aku wahyu -___-.eh yang lebih so sweet ya? emang ini belum cukup so sweet ? :v

    BalasHapus