Laut, matahari
senja, pantai. Semua itu berada di kepalanya. Teringat apa yang dilakukan
selanjutnya. Selalu berpikir untuk tidak kehilangan waktu. Prinsip hidupnya
yang sederhana, yang selalu berkata “tidak ada waktu untuk menghabiskan hidup
dengan pertemanan ataupun percintaan. Hanya ada waktu untuk memikirkan masa
depan”.
Sanjaya Prawira,
siswa kelas sebelas SMAN 1 MATARAM. Seorang anak remaja yang selalu terobsesi
dengan masa depan. Tubuh kecil, tinggi semampai dengan rambut keriting yang
membungkus kepala mungilnya dimana selalu terdengar ucapan “jauhi orang – orang
tak berguna, jangan punya teman” yang selalu berkeliling terngiang – ngiang
disana.
Hari itu hari
pertama dia masuk sekolah setelah menjalani setengah semesternya di kelas
sebelas. Seperti hari – hari biasa, teman – temannya selalu menatap dirinya
dengan tatapan sinis, seolah – olah
ingin berkata “ah, si kutu buku sialan
ini. Dia pasti senang, Karena dia tahu dia akan mendapat nilai yang bagus”.
Hubungan dengan teman – teman kelasnya memang tak akur. Mereka menganggap
Sanjaya adalah orang yang apatis. Dilihat dari faktanya, memang begitulah dia.
Pernah suatu
hari salah seorang temannya bertanya tentang kenapa sanjaya selalu menyendiri
dan tak punya teman. Jawabannya sederhana, sesederhana dirinya. “Aku tidak
punya waktu untuk itu! Mengurus pertemanan hanya akan mencegahku lebih dekat
dari apa yang aku cita – citakan”. Menurut Sanjaya, memiliki teman hanya akan
memperlambat dirinya mencapai target yang dia inginkan. Kadang seseorang tidak
mendapat pekerjaan yang dia inignkan, menurutnya hal ini terjadi karena kebanyakan
orang sibuk meluangkan waktu mereka pada sesuatu yang tidak berguna, salah
satunya pada sesuatu yang disebut “pertemanan”. Apatis memang iya, begitulah
dirinya.
Pandangan
matanya waktu itu tertuju pada seorang gadis yang bagi dirinya sangat tidak familiar.
“murid barukah?” Tanya dirinya dalam hati.
“yah setidaknya
semoga dia tidak berusaha mendekatiku”
Begitupun dengan
murid – murid lainnya. Setiap mereka memasuki kelas tersebut, pandangan mata
mereka selalu tertuju pada gadis mungil itu.
Pelajaran pertama
hari itu dimulai dengan perkenalan murid baru – si gadis kecil –.
“Hai semuannya.
Namaku Clara Sulistya. Usiaku 16 tahun. Aku pindahan dari SMAN 1 Praya”.
Setelah ucapan itu terlempar, pertanyaan – pertanyaan datang menyerbu dirinya.
Sekarang sanjaya
tahu nama gadis ini. Seorang gadis bernama Clara Sulistya. 16 tahun. Siswi
pindahan dengan tubuh ideal dan tinggi sekitar 160 cm. Berbeda dengan dirinya,
semua murid di kelas itu terlihat begitu hangat menyambut gadis kecil ini.
Seperti yang
ditakutkan Sanjaya, tentu saja gadis itu berusaha membuat rubuh pertahanan
perinsipnya yang selama ini dia anut. Tembok besar yang selama ini menghalangi
banyak orang untuk memasuki kehidupannya, kini didepannya telah berdiri tegak
seorang wanita dengan mulut terbuka lebar sambil berteriak pada sang empunya
tembok “Akan kuhancurkan tembok ini”. 16 tahun tanpa hubungan special dengan
orang lain – selain orang tuanya –. Hal ini tentu tidak akan membuat dirinya
mudah goyah dari prinsipnya.
***
Jam istirahat
pun tiba. Seperti biasa, dirinya pergi keatap sekolah. Duduk dan memakan makan
siangnya. Apa yang dia lakukan disana? Menulis. Ingat prinsipnya? Ya, cita –
cita Sanjaya adalah menjadi seorang penulis. Satu hal lagi yang perlu kalian
tahu. Dia sangat tidak ingin diganggu (benci) ketika dalam berada dalam
imajinasinya.
Baru 2 menit dia
berada di sana, tubuh mungil Clara keluar dari pintu atap sekolah dengan sapaan
khasnya. Tentu saja Clara bukan orang yang mudah menyerah, dan tentu saja hal
itu membuat Sanjaya cukup kerepotan.
“Ha-Hai, kalau
tidak salah kamu Sanjaya kan? Sedang apa kau di sini. Di sini cukup sepi. Apa
itu tidak mengganggumu?” Tanya Clara.
“Satu – satunya
hal yang mengganggu diriku di sini adalah kehadiranmu” jawab Sanjaya. “pergilah
dan jangan pernah kembali”.
“Wow dingin
sekali. Apa kau mengucapkan hal itu setiap kali ada seseorang yang
mendatangimu?”.
“Ya, kecuali
pada orang tuaku. Dengar, kau bukan yang pertama, jadi kumohon pergilah”.
“Tempat ini
menarik” ucap Clara.
“Apa kau tidak
dengar? Jika kemampuan bahasamu kurang, semoga dengan perkataanku ini kau dapat
mengerti. Jauhi diriku, aku ingin kau pergi”
“Aye-ye kapten.
Kau sungguh serperti kapten janggut merah, hanya saja kau tidak punya janggut
di wajahmu haha” ucap Clara bercanda. Begitulah kiranya yang selalu terjadi
setiap hari ketika Sanjaya berada di tempat meditasinya (atap gedung sekolah).
Clara adalah
orang yang cukup gigih, dan itu cukup membuat Sanjaya khawatir. Baru kali ini
dia merasa meragukan prinsipnya. “Gadis ini menyebalkan, atau aku yang salah
dalam menanggapinya?” Tanyanya dalam hati. Ketika Clara selalu datang padanya
ketertarikannya akan gadis ini muncul sedikit demi sedikit. Terus bertumbuh
seperti sebuah tanaman.
Sampai suatu
hari. Di atap sekolah.
“Kau tidak bosan
diacuhkan olehku?” Tanya Sanjaya kepada Clara.
“Tentu tidak,
memangnya kau pamanku? Ngomong – ngomong pamanku itu membosankan” ucap Clara.
“Pfft…” Sanjaya
tersenyum kecil.
“Apa itu
senyuman? Kau tersenyum. Di sana Tepat di bibirmu, kau tersennyum.” Kata Clara.
“Tidak, tidak.
Aku hanya tersedak, memang begitu ketika aku tersedak”
Aku tidak ingin
mengatakannya pada kalian, tapi sebenarnya Sanjaya tersenyum saat itu. Senyum
paling tulus yang pernah ada. senyum paling tulus yang pernah ia keluarkan.
Senyum pertamanya kepada orang lain (selain orang tuanya). Pertanda dari tembok
pertahanannya yang runtuh perlahan – lahan mulai terlihat. Ketertarikannya pada
Clara semakin hari semakin bertambah dan semakin tak terbendung. Prinsip lama
yang dia anut kini semakin buram. Dia bahkan sudah tak terlalu peduli dengan
prinsipnya yang dahulu. “Clara berhasil, clara berhasil membuat tembokku
runtuh” Ucap sanjaya dalam hati sambil memandang wajah lugu nan polos Clara
yang sedang tersenyum gembira melihat dirinya tersenyum. Kini wanita yang
berteriak untuk menghancurkan tembok tersebut tengah berdiri dan bertatap muka
dengan sang empunya tembok, dipisahkan oleh sebuah tembok yang sekarang telah
setinggi setengah dirinya.
***
Karena setiap
hari bertemu, Clara dan Sanjaya sudah mulai saling mengenal. Clara tahu bahwa
Sanjaya lahir di kota Mataram pada tanggal 19 Januari 1999. Begitu juga sanjaya,
ia tahu bahwa Clara lahir di kota Praya pada tanggal 24 November 1998 .
Keduanya bahkan sudah saling bertukar alamat facebook dan e-mail. Sanjaya yang
semula merupakan orang paling malas segalaksi dalam bermain facebook, kini
menjadi orang terajin seantero Mataram. Satu – satunya alasan dia bermain
facebook adalah untuk menunggu pemberitahuan komentar balasan dari Clara. Suara
“ping” dari telepon genggamnya mungkin adalah suara terindah yang dia dengar
saat ini. Mengalahkan suara “Jaya ayo turun makanannya sudah siap nih” dari
ibunya. Begitulah setiap harinya, tidak puas bercengkrama di atas atap sekolah,
dilanjutkan dengan chatinggan di media social.
Lalu apa
sebenarnya yang dirasakan Sanjaya saat ini? Perasaan sinis yang berubah menjadi
tertarik, kini telah berevolusi kembali menjadi perasaan yang disebut – sebut
para pujangga sebagai “Cinta”. Hanya keberanianlah yang ditunggu Sanjaya kali
ini. Bagai hilang alamat, perasaan berani tak kunjung jua datang kepadanya.
Perlahan – lahan sanjaya mengumpulkannya, berharap suatu hari nanti dia bisa
mengatakan perasaanya pada Clara.
19 November
2015, 5 hari lagi ulang tahun Clara. Entah tersambar jin apa dia selepas malam
tadi sampai – sampai dia bergumam “ah 5 hari lagi, semoga itu adalah waktu yang
tepat”. ini adalah pengalaman pertamanya menyatakan perasaan kepada seorang
wanita. Dia gugup. Dia canggung. Takut akan gagal, takut akan ditolak. Tapi
baginya selalu ada yang namanya pertama kali dalam seumur hidup. Pertama kali
menyatakan cinta, pertama kali di terima dan mungkin saja pertama kali ditolak.
Lalu di atap
sekolah (lagi).
“Ehm ulang
tahunmu kan 5 hari lagi nih, mau kado apa?” Tanya Sanjaya malu – malu.
“Ahaha, apa saja
asal jangan bunga kamboja.” Jawab Clara “Aku benci getah bunga kamboja”.
“Hmmm kalau aku
tidak memberimu kado apapun bagaimana?”.
“Dengan kau
datang ke pesta ulang tahunku saja itu sudah merupakan kado yang istimewa
untukku” .
“baiklah, aku
akan datang”.
“Aku tunggu ya,
awas lho kalo tidak datang haha” kata Clara.
Bermalam – malam
Sanjaya begadang hanya untuk memikirkan kado yang pas untuk Clara –plus
memikirkan kata – kata yang pas pada hari eksekusi nantinya.
Akhirnya hari
itu tiba. Apa yang paling ditunggu Sanjaya hari itu adalah bunyi lonceng jam
yang menandakan pukul empat sore. Pukul empat sore rumah Clara sudah ramai
dikunjungi sanak saudara dan teman – temannya. Senyum dan tawa dari Clara lepas
begitu saja membagikan kebahagiaan kepada semua orang yang berada di tempat
itu. Tak terkecuali Sanjaya. Dengan perasaan deg-degan yang super – duper luar
biasa dia melangkah menuju Clara.
“He-Hei Clara”
panggil Sanjaya.
Tiba – tiba
semua orang menjadi riuh (khususnya teman – teman Clara). Dalam benaknya
Sanjaya bertanya “Apa yang sedang terjadi?”. Jaraknya yang cukup jauh dari
Clara membuat dirinya tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Melangkahlah
dia menuju Clara dengan penuh rasa ingin tahu. Satu persatu orang
disingkirkannya. Sampai pada akhirnya sampailah dia di tempat di mana semuanya
terlihat jelas. Remuklah dia. Apa yang terjadi?
“Wuihhihihi
Clara ditembak sama Rudi, aku harap Clara menerimanya. Mereka akan menjadi
pasangan yang sangat cocok”. Itulah setidaknya kata – kata yang mewakili apa
yang sebenarnya terjadi. Seorang pria, tinggi, bertubuh ideal, hobi bermain
basket, wajah tampan dan keluarga mapan. Dengan segala yang dia miliki, siapa
yang tak kenal Rudi Hartono? Usut punya usut, Rudi juga sebenarnya punya rasa
kepada Clara. Sama seperti Sanjaya, Rudi juga punya niatan untuk mengungkapkan
perasaannya pada Clara di acara ulang tahunnya.
Semua orang
semakin riuh meneriaki dua sejoli yang sedang bertatap muka. Clara yang
tersenyum simpul dengan Rudi yang terduduk tegap. Sebagian dari mereka
berteriak “Terima..Terimaa” dan sebagiannya lagi berteriak “Cieee
jadian…jadian..”. Sanjaya yang hanya seorang anak sederhana dengan impian besar
hanya bisa tertunduk lalu meremas kado yang telah ia siapkan sedari 5 hari yang
lalu. Dibuanglah kado itu olehnya.Kado berupa puisi yang masih terjaga kerahasiaannya.
Kalang kabutlah dirinya. Perasaannya bercampur aduk. Tapi mau dikata apa? mau
marah? mau dongkol? mau benci? Dia sadar bahwa sekarang seorang wanita yang
telah meruntuhkan temboknya kini telah pergi dengan seorang pangeran berkuda
putih ke sebuah kerajaan nan makmur. Sementara itu sang empunya tembok
sibuk membangun kembali temboknya. Jika
dulu dia membangun temboknya dengan semangat dan harapan, kini dia membangun
temboknya dengan sakit hati dan keputusasaan. Sekarang kalian tahu kenapa Sanjaya
tidak ingin berteman. Alasan – alasan omong kosong tentang cita – cita itu
hanyalah kedok belaka. Alasan yang sebenarnya adalah hal yang sedang terjadi
padanya saat ini. Dia takut. Dia takut dikecewakan. Sesederhana itu.
Sesederhana dirinya.
Dia pulang
dengan hati yang tercabik – cabik. Wanita yang ia sukai sekarang sudah milik
orang lain. Jika saja Sanjaya seperti remaja
- remaja yang lain. Mungkin dia sudah pulang dengan berlinang air mata.
Tetapi tidak dengan dirinya. Dia pulang membawa pelajaran. Pelajaran berharga
tentang kepercayaan. Pelajaran berharga tentang arti dari kekecewaan.
Tetapi apa yang
sebenarnya terjadi? Clara? Apa benar dia menerima Rudi?
Sementara
Sanjaya di jalan pulang. Riuh di pesta ulang tahun Clara berubah menjadi
keheningan. Menunggu jawaban sang putri.
“Jadi?” Tanya
rudi dengan harap – harap cemas.
“Ma-maafkan aku
Rudi. Kau memang cowok yang hebat, tapi seseorang telah mengisi hatiku.
Seseorang telah mengisinya dengan sinar Matahari senja yang indah. Sekali lagi
maafkan aku. Hanya saja aku tidak mungkin membiarkan Matahari senja ini berubah
menjadi gelapnya malam” jawab Clara
***
Tembok itu sudah
lebih kuat, karena dibangun dari sakit pahitnya pengalaman. Bagaimana dengan
Clara?
Hari itu diatap
sekolah setelah satu bulan lebih mereka tidak bicara. Clara memberanikan diri
untuk menghampiri Sanjaya.
“Anuu Jaya..
sebenarnya ada apa sih? Akhir – akhir ini kita tidak pernah bicara lagi” Tanya
Clara.
“Tidak ada. aku
hanya mencoba menyendiri lagi” jawab Sanjaya.
“Hei kau tidak
perlu menyendiri, kan ada aku disini”
“….” Sanjaya
terdiam membisu
“Hufft aduh
bagaimana ya?”
Untuk sekedar
informasi, hari itu adalah hari ulang tahun Sanjaya.
“Kamu marah sama
aku? Seharusnya aku yang marah. Soalnya kamu tidak datang di acara ulang
tahunku” kata Clara “Sekarang aku datang di hari ulang tahunmu lho, walaupun
tidak seramai ulang tahunku”.
“terus?” Tanya
Sanjaya.
“Kalau boleh aku
ingin membacakan sesuatu untukmu, sebagai kado ulang tahunmu dariku”
“Terserahlah”
“Dengar baik –
baik ya. Aku menghapalkan ini dengan susah payah lho
Rindang pohon berselimut daun
Berung penyendiri di atas sangkar
Melihat burung lain terbang menari
Irikah dia? Tidak
Apa gerangan yang ia tunggu?
Sentuhan lembut penuh kemesraan
Ajakan tangan menuju kebebasan
Irikah dia? Tidak
Ramai – ramai burung terbang
Tanpa sangkar tanpa kekang
Di atas awan dengan girang
Irikah dia? Tidak
Burung penyendiri tak sendiri
Disebelahnya berdiri kekasih hati.
Sanjaya
terkejut.
“i-itu kan?”
Tanya Sanjaya.
“Ya ini
puisimu.” Jawab Clara.
“Ta-tapi
bagaimana bisa?”
“Sejujurnya aku
melihatmu hari itu. Sayangnya kau membuang kado terindahmu untukku. Aku
menunggumu hari itu.”
“Ma-maafkan aku.
Tapi bagaimana dengan Rudi” Sanjaya tertunduk menyesal.
“Rudi? Hahaha
cowok yang kekanak – kanakan seperti dia sama sekali bukan tipeku” kata Clara.“Haaaah
jadi karena ini hari ulang tahunmu, aku tidak akan memberikanmu satu kado saja,
aku punya kado lain” ucap Clara. “Jadi ak..” ucapan Clara terhenti oleh
senggahan dari Sanjaya.
“Hentikan, aku
akan merubah kebiasaan kita sedikit. Jika biasanya yang berulang tahun yang
diberikan kado, kali ini yang berulang tahun yang memberikan kado” Kata
Sanjaya.
“Haha apa itu?”
Saat itulah rasa
kecewa tergantikan. Diisi oleh sebuah keberanian. Jika kalian tidak percaya
dengan hati manusia yang bisa menghilangkan rasa kecewa, kalian harus belajar
lagi. Hati manusia tidak serumit itu. Kadang hati dan pikiran yang sederhana sudah lebih dari cukup untuk
memahami seperti apa sebenarnya manusia itu. Kalian tidak percaya? Sanjayalah
buktinya.
“Maukah kau
menjadi kekasih hati burung penyendiri
ini? Menemaninya melihat burung yang terbang tanpa ada rasa iri sedikitpun?”
Tanya Sanjaya.
“Tentu saja Matahari Senjaku” Jawab Clara.
Buat yg lain dong gan, yg lebih sosweeeeeeeet😂😂 hahaks
BalasHapusBuat yg lain dong gan, yg lebih sosweeeeeeeet😂😂 hahaks
BalasHapusNgapain pake kata "Gan" (padahal temen sekelas)? -___- kesannya kek abang - abang kaskus. setidaknya panggil aku wahyu -___-.eh yang lebih so sweet ya? emang ini belum cukup so sweet ? :v
BalasHapus